Beauty

Shareefa Daanish, Si Penyuka Gaya Eksentrik yang Mengubah Ejekan Menjadi Potensi Diri

Pertama kali saya melihat sosok Shareefa Daanish di layar kaca adalah saat dirinya membintangi sebuah iklan produk kecantikan wajah di tahun 2003. Jujur saja, kontur wajahnya yang unik benar-benar mencuri perhatian saya, terlebih konsep iklan tersebut menampilkan wajah Shareefa secara close up. Hmm, siapa yang mengira, di tahun 2017 ini saya memiliki kesempatan bertemu langsung dan melakukan wawancara singkat dengan wanita bernama lengkap Shareefa Daanish Wibisana ini di salah satu acara sebuah produk kecantikan. Sikapnya yang hangat dan murah senyum benar-benar jauh dari karakter yang kerap ia perankan di tiap filmnya belakangan ini. Entah kebetulan atau tidak deretan projek film yang telah dikerjakan ibu dari Raden Matahari Terbit Wirasendjaja ini hampir keseluruhannya bergenre horror, sebut saja Ular Tangga, Danur dan The Curse.

Di balik kemampuan akting memukau dan penampilan yang eksentrik, Shareefa juga sempat mengalami masa-masa sulit sebagai korban bully. Bahkan wanita kelahiran London, 21 Juni 1982 ini sempat mengalami krisis kepercayaan diri. Bagaimana ‘Mba Asih’ menghadapi ejekan di masa kecil? dan apa yang membuatnya kini lebih berani mengekspresikan diri? Coba simak kutipan percakapan kami di bawah ini.

Shareefa Daanish

Halo Shareefa, belakangan ini begitu suka gonta ganti warna rambut. Ada proyek film tertentu atau memang ingin tampil beda?

Hai, hmm kebetulan ini memang saya pribadi yang lagi suka berpenampilan beda aja. Kemarin sempat tampil dengan rambut abu-abu terus sekarang mau coba warna yang lebih cerah. Bisa dibilang ketagihan kali ya, karena ketika sudah bleaching rambut, warna apapun jadi bisa masuk.

Bagaimana dengan perawatannya, ada trik tertentu supaya rambutnya tidak gampang rusak?

Yang penting rajin hair spa, rajin creambath dan harus pake kondisioner. Bahkan saya tiap hari basahin rambut tapi nggak keramas, cuma pakai kondisoner aja. Keramas tetap tapi nggak sampai tiap hari, karena kalau keramas rambut saya cenderung jadi kering.

Tampil eksentrik dan suka mencoba gaya baru, ada kekhawatiran akan di-judge orang lain?

Nggak ada kehawatiran itu karena saya ngerasa jadi aktris nggak harus jadi orang lain. Malah jadi aktris harus stand out, jangan sama dengan orang lain. Kaya misalnya kalau ada orang yang nyinyir komen di Instagram buat saya sih ya itu suatu hal yang lumrah, karena apa yang saya posting, apa yang saya kenakan pasti ada yang suka, ada yang tidak. Nggak usah denger kata orang, kalau kamu merasa nyaman ya jalanin aja, yang paling penting kan kita merasa bahagia.

Bagaiamana cara Shareefa untuk bisa tetap tampil percaya diri?

Sebenernya sampe sekarang pun kadang saya masih suka nggak percaya diri, semua perempuan juga pasti ada masa-masanya seperti itu. Tapi kalau mulai menerima dan bisa nyaman dengan diri sendiri saya baru bisa merasakannya di umur 30-an ini. Karena tantangan untuk  tampil percaya diri biasanya datang dari diri sendiri dan lingkungan.

Pernah mengalami kejadian yang menekan rasa percaya diri? 

Jujur saja saya pernah mengalami masa di mana merasa butuh pegangan untuk bisa lebih percaya diri. Masa sekolah SD-SMP saya sempat di bully secara verbal. Kayaknya kalau di sekolah saya itu hal yang wajar untuk mengejek dengan kata-kata yang bikin kita nggak percaya diri. Masa-masa puncaknya ya jaman SMP, ada teman yang mengejek saya dengan sebutan beurit (Bahasa Sunda untuk tikus-red) mereka bilang muka saya kaya tikus. Ada momen saya merasa down dan berpikir emang segitu anehnya ya wajah saya.

Di masa SMA apa tindakan bully masih ada?

Tidak, tapi pernah suatu waktu ada temen perempuan saya, (sekarang kita berteman baik) dia pernah tiba-tiba datang dan bilang dengan wajah lempeng ‘kok kamu mukanya kaya alien ya’, padahal itu sangat menyakitkan hati saya, tapi saya cuma bisa ketawa aja sih, hahaha. Dan saya rasa di masa sekolah banyak yang kaya gitu, apalagi di Indonesia untuk membuat kampanye anti bully rasanya belum terlalu digalakan.

Momen apa yang membuat Shareefa akhirnya bisa bangkit dan lebih menghargai diri sendiri?

Saat kuliah, lalu masuk ke dunia model karena tawaran teman. Itu jadi momen yang membuat saya sadar dan bisa melihat perspektif yang berbeda. Ternyata saya bisa dihargain sebegitu besarnya, dulu saya yang diejek, pulang ke rumah bisa sampai nangis, merasa nggak pede karena omongan orang. Tapi ketika masuk ke dunia model saya sadar, ternyata yang orang bilang kekurangan itu malah jadi kelebihan buat saya.

Tahukah kamu bully tidak hanya bisa dilakukan secara fisik tapi juga verbal. Bully tidak hanya dilakukan secara sadar tetapi juga tanpa disadari. Saya tumbuh di lingkungan yang akrab dengan verbal bullying, dan menganggap hal itu wajar untuk dilakukan. Saya termasuk orang yang di bully dan juga akhirnya membully. Ikut2an membully menjadi hal yang sangat saya sesali. Sejak kecil saya di bully secara verbal lewat ejekan di lingkungan saya, karena wajah saya yang menurut mereka aneh dan kulit saya yang gelap. Positifnya karena saya kerap menerima ejekan, saya menjadi lebih kuat dan tidak peduli. 15 tahun yang lalu ketika mulai mendapat tawaran untuk menjadi model karena wajah saya yang aneh, adalah moment saya mulai bisa menerima "keanehan" pada saya. Saya mulai bisa mengatur pemikiran saya bahwa hal yang menjadi ejekan (kekurangan), bisa menjadi kelebihan saya. #embraceyouruniqueness #alleyesonyou #eyecentric ???? @saratjoe

A post shared by Shareefa Daanish Wibisana (@shareefadaanish) on

Ada pesan untuk wanita muda yang mungkin sedang menghadapi masalah yang sama?

Saya yakin setiap wanita itu punya potensinya masing-masing. Semua wanita terlahir berbeda-beda lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya. Tugas kita adalah gimana caranya bisa menggali kelebihan masing-masing. Jangan terpaku dengan image cantik yang jadi stereotype orang-orang. Cari potensi diri sendiri dan jangan takut untuk sharing dengan orang terdekat. Saya sendiri juga terus mencari jati diri sampai akhirnya saya merasa dunia akting adalah tempat saya bisa berekspresi dan membuat saya nyaman.

Nah membahas soal film, setelah tampil di beberapa film bergenre horror, akan ada proyek apalagi dari Shareefa?

Setelah The Curse saya juga akan tampil beberapa scene di film bergenre thriller berjudul The Night Comes for Us, lalu masih ada film lagi tapi belum mulai jalan syuting.

Belakangan selalu memilih peran di film bergenre horror apa tidak khawatir terjebak dengan karakter yang itu-itu saja?

Kalau sekarang orang pasti melihatnya film saya lebih banyak horror dan thriller. Kalau ditanya kenapa nggak mau coba karakter lain, ya saya sudah pernah akting berbagai peran. Komedi, drama, semua itu sudah pernah saya lakukan waktu muda, hahaha. Tapi sekarang saya merasa ini karakter yang nyaman saya perankan dan orang pun melihat saya cocok. Jadi tidak masalah.

Kenapa begitu nyaman memerankan sosok hantu? Apa tantangannya?

Karena saya suka banget film horror. Ada film horror terbaru saya pasti pengen nonton. Jadi kalau orang bilang saya cocok memerankannya, ya saya merasa berhasil dengan karakter yang diperankan. Awalnya peran seperti ini menantang, karena sebelumnya ada film Rumah Dara, di mana saya belum terbiasa memerankan peran jahat lalu saya harus jadi pembunuh berdarah dingin, itu tantangan buat saya, tapi saya bersyukur ketemu sutradara yang sangat support dan membuat suasana yang tetap nyaman selama syuting.

Setelah berkeluarga apa syarat tertentu bagi Shareefa dalam memilih proyek film?

Setelah berkeluarga, anak dan suami adalah hal yang utama. Untuk urusan diri pribadi rasanya sudah jadi nomor kesekian. Saya selalu menerima tawaran film yang jadwalnya tidak bentrok dengan suami saya. Karena kami ngurus anak sendiri, jadi kalau saya dapat kerjaan saya harus tahu dulu jadwal dia. Kalaupun ada film yang benar-benar saya kepengen tapi waktunya nggak cocok ya nggak akan saya ambil.

 

PREVIOUS ARTICLE

Fakta Menarik Tentang Snail Skin Care yang Perlu Anda Ketahui

NEXT ARTICLE

3 Rekomendasi Concealer dari Brand Lokal yang Patut Anda Coba

RELATED ARTICLES