Beauty

Menghadapi Tantangan Dalam Dunia Musik Hingga Penampilan ala Monita Tahalea

Mengawali karier melalui ajang pencarian bakat di tahun 2005, Monita Tahalea terus berkarya di jalur musik dengan mengeluarkan dua album solo, yaitu Dream Hope and Faith (2010) dan Dandelion (2015). Tak semata menjadikan popularitas sebagai tujuan utama hidupnya, Monita pun mantap memilih jalur indie. Selain soal musik yang bisa ia tuangkan sepenuh hati, untuk urusan penampilan Monita pun kini mengaku lebih nyaman menampilkan karateristik dirinya tanpa harus terjebak dengan segala stereotype mengenai batasan ‘cantik’ yang selama ini lekat di masyarakat. Terhitung sudah 12 tahun berlalu sejak penampilan awalnya di dunia hiburan tanah air, perubahan apa saja yang dirasakan wanita bernama lengkap Monita Angelica Maharani Tahalea ini? Lalu apa saja tantangan yang harus ia hadapi dalam proses menciptakan musik? Coba simak obrolan kami dengan wanita kelahiran 21 juli 1987 berikut.

Apa kesibukan Monita saat ini?

Baru rilis single ke-3 dari album Dandelion, trus baru selesai rekaman, jadi salah satu lagu di album Dandelion itu di-translate ke bahasa lain dan aku lagi mematangkan pronunciation-nya.

Apa tantangan yang dihadapi sebagai seorang penyanyi?

Tantangan banyak banget, tapi hal itu bikin aku yakin kalau yang aku lakukan ini pantas untuk diperjuangkan. Seperti karier sebagai penyanyi yang suka dipandang sebelah mata. Padahal sebenarnya menjadi penyanyi dan penulis lagu itu punya tanggung jawabnya tersendiri. Ketika menulis lagu, kita nggak asal nulis. Mungkin nanti 20 tahun lagi ketika si penyanyi udah nggak ada, tapi lagunya masih tetap bisa didengar. Lagu pun nggak sembarang ditulis, ada perjalanan, isi pemikiran dan isi hati yang kita sampaikan di sana. Itu makanya aku memilih menjadi seorang penyanyi.

Lalu, apa tantangan yang dihadapi saat Monita memilih jalur indie?

Saat kita fokus dengan karya yang kita buat, banyak orang akan bilang ‘ah terlalu idealis, lagunya nggak jualan’ atau ucapan ‘kenapa nggak di industri (major label) aja supaya menghasilkan uang?’. Yes we need money, dan ini juga mata pencaharian kita, tapi balik lagi buat aku itu bukan segala-galanya. Selalu ada jalan untuk rezeki, tapi menurut aku tanggung jawab kita saat menyanyikan sesuatu itu jauh lebih penting. Ketika aku milih jalur independen, aku banyak belajar dan lebih mandiri, gimana caranya cari uang, pikirin bussiness plan sampai strategi promosinya sendiri. Tantangannya banyak dan pasti capek banget, tapi ini semua pilihan aku, jadi setiap menghadapi tantangan aku selalu inget dengan tujuan awal kenapa akau lakuin ini.

Biasanya hal apa yang menjadi inspirasi Monita dalam menulis lagu?

Hal yang menginspirasi banyak banget, segala hal bisa jadi inspirasi. Bahkan lihat orang yang berdiri nunggu bis di halte pun aku bisa membayangkan kira-kira harinya baik apa nggak ya, dia mau pulang kemana. Pokoknya berbagai hal seputar keseharian. Hal-hal yang nggak jauh dari pandangan mata bisa jadi ladang inspirasi, sesimpel ngeliat ke atas langit, hari ini masih ada, hari ini masih bisa lihat matahari terbit. Jadi nggak harus selalu seputar cinta atau sosok tertentu.

Sebagai penyanyi indie, bagaimana Monita melihat perkembangan social media saat ini?

Aku lebih milih melihat celah di era social media seperti sekarang, seperti jadi lebih gampang promosiin karya aku. Kalo dulu mesti kumpulin uang yang banyak buat promo sekarang pakai social media udah cukup untuk promo. Sekali taruh di iTunes, seluruh dunia bisa denger karya aku. Lihat celah postifnya aja.

Adakah perubahan yang Monita rasakan dari perkembangan dunia digital terhadap diri sendiri?

Makin majunya zaman, pasti akan diiringi dengan isu tertentu. Saat ini perubahan zaman terkesan futuristik dan keren tapi tanpa sadar kadang ada beberapa nilai kehidupan yang ikut hilang juga, yang mungkin sebenernya masih harus kita jaga. Misal kalau dulu mungkin karena nggak ada socmed, nggak tiap hari stalking orang dan compairing dirinya sama orang lain. Lihat postingan orang, duh dia lebih inilah lebih itulah. Sekarang karena semua lebih mudah diakses otomatis wanita jadi lebih mudah terintimidasi dan nggak cepat puas dengan penampilan dirinya.

Bagaimana Monita menghadapi hal itu?

Bersyukurnya, aku sudah bisa merasa nyaman dengan diri sendiri dan nggak pernah mau mikirin pendapat orang tentang apa yang aku pakai dan aku tampilkan. Yang paling penting, jangan pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Itu musuh terbesar yang bikin perempuan susah untuk bisa percaya diri. Apalagi kita terbiasa hidup dengan perbandingan, dari zaman sekolah, dari soal ranking, di rumah kalau punya saudara pasti akan ada perbandingan, dunia nyanyi pun sama. Tapi ketika perasaan ini muncul, aku selalu balik lagi untuk fokus ke tujuan awal. Kenapa jadi penyanyi, kenapa menulis lagu.

Kapan Monita mulai merasa percaya diri?

Momen di mana aku bisa nyaman dengan diri sendiri dimulai saat menulis lagu di tahun 2010. Menyanyikan lagu sendiri dan didengar banyak orang, di situ aku mulai menemukan diri aku. Karena balik lagi, awalnya aku nyanyi itu dari sebuah kompetisi, jujur dulu banyak fase nggak banget, apalagi aku harus berpenampilan dengan gaya yang bukan datang dari diri sendiri. Meskipun nyanyi, tapi karena tampil depan kamera aku harus ikut memerhatikan penampilan. Kaya disuruh pakai bulu mata palsu supaya terlihat bagus di kamera dan berbagai hal lain yang menurutku, itu bukan aku.

Apa pesan Monita untuk wanita yang masih belum bisa nyaman dengan diri sendiri?

Yang paling penting fokus dengan tujuan kita, jangan menghabiskan waktu untuk mikirin orang bakal suka atau nggak, baik itu soal dandanan, atau penampilan. Tetap positif dan suportif, kalau ada perempuan yang punya kemampuan lebih dan dia berhasil melakukan sesuatu hal kita dukung, kita rayakan.

PREVIOUS ARTICLE

Wajah Bebas Minyak Seharian dengan 5 Rekomendasi Bedak Tabur Dari Brand Lokal Berikut!

NEXT ARTICLE

Siap-siap, Akan Ada Kejutan Besar dari Sociolla Selama Bulan Puasa!

RELATED ARTICLES

  • Workshop Inspirasi #AllEyesOnYou dari Make Over, Mendukung Kebebasan Berekspresi Wanita Indonesia

    […] bertemakan #AllEyesOnYou di Conclave, Jakarta. Mau tahu apa saja keseruan yang dihadirkan oleh Monita Tahalea, Shareefa Danish, Asmara Abigail dan Natasha Wiggerman di acara ini? Simak ulasan lengkapnya di […]

COMMENTS1 comments