Inspiration

Bicara Mematangkan Bisnis Fashion Hingga Soal “Menikah Itu Bukan Solusi” dengan Yelly Lumentu, Pendiri Label Day and Night

Ketika ditemui Beauty Journal untuk sesi wawancara ’50 Shades of Beauty’, ia berbalut T-shirt polos putih dan celana hitam, sama sepeti filosofi dan identitas label fashion yang ia dirikan di tahun 2012, Day and Night. Membidik target market wanita berusia 25 hingga 35, ia menciptakan beragam koleksi fashion ultra chic dengan sentuhan minimalis dan didominasi oleh warna hitam putih yang bisa Anda telusuri di website maupun akun media sosialnya. Yelly Lumentu, seorang fashion designer yang selalu excited jika ditanya soal bisnisnya ini terlihat dan penuh energi. Ia baru saja kembali dari Melbourne mengikuti program beasiswa khusus bersama 25 orang desainer Indonesia lainnya. 

“Bisnis fashion itu menggiurkan, tetapi nggak mudah. A lot of struggling involved.”

Jika Anda sekarang mungkin bisa menemui koleksi bajunya terpajang di Fashion Lab Galleries Lafayette Pacific Place, mungkin Anda tidak akan menyangka bahwa ia memulai karirnya dari nol dan menggunakan modal awal yang ia dapat dari hasil keringatnya saat masih bekerja di sebuah label muslim wear saat ia merantau dari Makasar ke Jakarta. Tergelitik oleh perasaan bahwa ia ingin menumpahkan idealismenya dalam merancang fashion, maka ia pun merintis koleksi pertama hanya bermodalkan kurang dari satu setengah juta rupiah. Kali ini Beauty Journal berkesempatan untuk bicara bisnis dan kehidupan dengan Yelly.

Boleh ceritakan secara singkat awal mula merintis Day and Night?

Koleksi pertama yang aku buat waktu itu ada 6 look, dan itu aku buat di waktu luang saat masih bekerja full time di sebuah label muslim wear. Awalnya gagal dan nggak laku. Yang membeli pun hanya dari teman-teman kakak saya saja. Akhirnya saya coba mempersiapkan koleksi lebih matang dan disertai riset dengan lebih menyelami kemauan market pada saat itu dan kembali menciptakan koleksi yang dipasarkan di akun media sosial Facebook.

Namun, pada masa itu, masyarakat belum terlalu aware dan mengapresiasi local brand. Yang lagi naik daun adalah PO bangkok. Beberapa kali pelanggan selalu mengira Day and Night = baju PO Bangkok, meskipun sudah beberapa kali dijelaskan. Kadang gemas, kesal campur sedih juga. Tapi, syukurlah akhirnya bisnis Day and Night mulai berjalan perlahan.

Awalnya memang tidak pernah mudah. Harus siap gagal atau banyak orang meragukan kemampuan ya, apalagi kalau ngeliat potongan aku yang seperti ini hahahhaha. Tapi biasanya aku jarang ambil pusing dan ngga baper. Kalau ada orang yang meremehkan kadang itu jadi motivasi juga buat aku untuk sukses. The best revenge is your success. Hahahaha.

Apa strategi yang Yelly jalankan untuk membesarkan Day and Night?

Strategi pertama mungkin just do it ya. Aku itu orangnya Just Do It! Pokoknya harus bikin, jalanin dulu. Awal aku juga jualan tanpa target yang ambisius. Yang penting cukup buat nutup dan bisa memutar uang agar operasional bisnis tetap jalan. 

Yang kedua endorse. Dulu waktu awal Day and Night berdiri, endorse termasuk salah satu strategi yang sangat efektif. Setiap kali baru mengendorse beberapa fashion blogger, pasti yang laris selalu item yang dipakai oleh blogger-blogger tersebut. Sekarang aku masih endorse tapi tidak sesering dulu dan jadi selektif karena ada beberapa blogger yang terlalu ‘katalog’ sehingga eksposure dan engangement produk jadi kurang ter-highlight.

Membina hubungan baik dengan media. Ini berawal dari mengikuti LPM (Lomba Perancang Mode) yang diikuti oleh Femina. Dapat banyak pengetahuan baru dari penjurian meskipun sempat dicecar oleh para juri. Padahal waktu itu sebenarnya umur aku udah mepet, jadi kalau aku nggak ikut tahun itu, tahun depan udah nggak bisa ikut lagi, jadi nekat aja. Eh ternyata menang juara 1. Hepi banget! Jadi banyak diekspose oleh media juga dan membantu banget untuk branding Day and Night.

Lalu, setelah menang LPM dan mengikuti program IFF yang diselenggarakan oleh Femina Group, aku juga bikin second line, yaitu YELLY untuk memperluas jangkauan market. YELLY ini memang memiliki range harga yang lebih tinggi di atas satu juta karena pemilihan bahan dan desainnya pun lebih intricate, meskipun masih mengusung filosofi yang sama dengan Day and Night dan memakai warna hitam putih. So far sih masih seperti bayi, harus dibeliin popok dan disubsidi dari hasil Day and Night hahaha. Tapi yang jelas harus optimis!

Kalau strategi untuk bertahan dan menghadapi kompetitor?

Aku punya misi menjadikan Day and Night ini online fast fashion karena sekarang kebutuhan orang untuk mendapatkan baju itu pengennya cepat. Semua serba cepat. Customer lebih sering buka new arrival ketimbang discount item. Tiap bulan harus ada yang baru. Selalu buat koleksi baru dalam waktu cepat, harus dengan pricing yang tepat. Biasanya sekitar 300 ribu hingga 1 juta rupiah kalau untuk online fast fashion. Ini ngefek banget di penjualan. 

Bagaimana dengan dunia digital dan socmed? Cukup berperan besarkah?

Kalau untuk bisnis Day and Night iya. Biasanya konten media sosial @yelly.official dan @dayandnight.official harus update setiap hari, dan ada pattern khusus agar layoutnya terlihat bagus. Kontennya biasanya seputar produk highlight, inspiration dan quotes. Kalau akun media sosial pribadi sudah tidak kepegang hahaha. Biasanya aku update kalo lagi ada yang  aku suka saja.

3 hal yg harus dipersiapkan kalau mau terjun ke enterpreneur?

  1. Siap untuk merelakan modal, jangan shock kalau banyak keluar duit di awal.
  2. Harus multitasking siap melakukan semua sendiri. Waktu awal berdiri, aku cuma punya 1 penjahit. Yang setrika aku, desain juga aku, semua aku deh pokoknya hahaha. Pusing juga. Kakak dan papa juga ada ikut membantu sekarang. Dan sekarang aku lagi merapikan manajemen supaya lebih teratur karena ada 2 brand yang mesti dipikirin. So far, total tim 7 orang meski aku masih banyak melakukan semuanya.
  3. Kesimbangan hidup pasti terganggu. Terkadang waktu seharian sudah habis buat ngurusin urusan kantor. Waktu buat hang out sama temen sudah tidak banyak. Ujung-ujungnya kalo curcol juga sama tukang jait hahaha. Paling hiburan saya cuma bermain sama keponakan. Itu ibarat ‘charger’ buat aku.

Ah masa sih curhatnya ke penjahit? Pasangan?

[Tertawa lepas] Ya ampuuuun! Pasangan nggak adaaaa.

Udah berapa lama nih berstatus jomblo?

[Masih tertawa] Aduh, berapa lama yaaa? [Sambil menghitung] Ini Jleb ya. Oh my god  time flies. Udah 7 tahun ternyata hahahahaha! Kalo nggak ditanya hari ini kayanya aku nggak nyadar deh. Oke kayanya abis pulang dari interview ini aku harus mulai mikirin lagi ya buat nyari hahaha.

Jadi penasaran, peer pressure ngga berat tuh? Hahaha. Atau merasa kesepian nggak karena lingkaran pertemanan biasanya sudah punya kehidupan sendiri? 

Ya pastinya. Aku punya sahabat dekat yang dulu itu ibarat girl power banget. Sama-sama merantau dari Makasar, sama-sama sekolah dan mempunyai impian. Tapi dia akhirnya punya pacar dan menikah. Nah, baru tuh berasa. Kalau orang tua juga tidak pernah memaksa atau kasih deadline untuk urusan menikah, meskipun keluarga besar ada juga yang menanyakan. Tapi aku jarang galau untuk urusan pasangan hidup. Biasanya aku cuma galau kalo lagi keinget sahabat aku ini yang udah menikah. Tapi ya nggak lama-lama galaunya, abis itu udah sibuk lagi mengurus Day and Night. Sampai ngga berasa udah 7 tahun ya.

Perspektif Yelly soal pasangan hidup dan menikah?

Pasangan ya kalau ada syukurlah, kalau belum ketemu ya sudah. Abis aku juga sekarang sebagian besar waktu masih habis untuk membesarkan Day and Night dan Yelly. Mau nemu dan kenalan di mana? Di dunia fashion juga biasanya lekong, atau setelah menikah ntar jadi lekong. Gimana dongHahahaha.

Bagi aku, menikah itu bukan solusi atau pencapaian, tapi lebih kepada soal mindset atau kesiapan. Lebih baik aku fokus dengan apa yang ada di depan dulu atau berusaha untuk mencapai cita-cita buat membesarkan Day and Night. Kalau memang sepi atau sendirian ya lebih baik sendiri daripada aku nanti belum siap terus jadi runyam hanya karena peer pressure atau anggapan bahwa umur segini seharusnya sudah menikah. Bukan berarti aku juga mengorbankan kehidupan personalku dan tidak butuh pasangan hidup ya, namun saat ini memang prioritas aku membesarkan Day and Night juga, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fashion yang ada di market saja, tapi juga membawa kesejahteraan bagi tim dan penjahit aku yang sudah ikut berjuangg dari awal untuk membesarkan Day and Night. 

Jadi arti kebahagiaan dan 3 prioritas hidup buat Yelly?

Haha, aduh berasa ujian nih ya. Tapi seru juga nih ditanyain yang begini jadi semacam reminder ya [tertawa renyah]. Yang pertama keluarga. Yang kedua Day and Night, yang ketiga Day and Night. Bahagia kalau bisa besarin bisnis Day and Night hingga ke mancanegara, sampai di titik di mana orang yang kerja buat aku, haha [Tertawa sambil bercanda]. Intinya, aku ingin Day and Night bisa jadi online fast fashion yang bisa menyediakan banyak pilihan fashion yang trendi dan juga produktif.

Ok pertanyaan terakhir nih. Kalau sudah tercapai what’s next?

Pengen travelling. Lalu aku sebenarnya punya cita-cita random yaitu buka toko bunga.

PREVIOUS ARTICLE

Lakukan Kebiasaan Ini Di Umur 20-an Agar Anda Selalu Sehat Sampai Tua

NEXT ARTICLE

‘Nembak’ Gebetan Tapi Ditolak? Ini Cara Agar Anda Cepat Move On

RELATED ARTICLES

comments