ATUR ULANG PASSWORD

Atur ulang password

Lupa password Anda? Masukkan alamat email.

Lifestyle

Review Film: The Predator, Sajikan Perburuan yang Brutal Namun Tetap Menghibur

Genap 31 tahun setelah film perdananya dirilis, film waralaba Predator siap menyapa kembali para penggemarnya melalui judul terbarunya, The Predator. Film dengan genre sci-fi ini merupakan judul ke-4 dari 3 judul sebelumnya, yaitu Predator (1987), Predator 2 (1990), dan Predators (2010). Film The Predator ini disutradarai oleh Shane Black yang sempat memerankan tokoh Hawkins di film Predator. Dengan nama besar film terdahulunya Predator yang sempat masuk dalam nominasi Oscars, mampukah The Predator mengulang kesuksesan yang sama?

Kembalinya Sosok The Predator ke Bumi

The Predator

*SPOILER ALERT. Artikel ini berisikan jalan cerita film yang mungkin tidak ditayangkan pada trailer.

Saat menjalankan sebuah misi di Meksiko, Quinn McKenna (Boyd Holbrook), yang merupakan pasukan sniper asal Amerika menemukan sebuah pesawat misterius dan berhasil mengamankan sebuah perangkat. Demi mengamankan barang bukti hasil temuannya, McKenna pun mengirimkan perangkat tersebut ke rumahnya. Siapa sangka, keberadaan paket ini justru mengancam keselamatan anaknya, Rory (Jacob Tremblay), karena tanpa sengaja dirinya mengaktifkan perangkat tersebut dan memberi sinyal bagi para predator untuk menuju bumi. Rory pun terancam bahaya, karena kini ia ikut diburu oleh The Predator. Berhasilkah Mckenna menyelamatkan anak semata wayangnya?

Twentieth Century Fox presents “The Predator.”

Lepas dari kasus Rory dan McKenna ada juga karakter Casey Bracket (Oliva Munn), seorang ahli biologi yang ditugaskan untuk meneliti para predator. Namun di tengah penelitian, predator yang terlelap, bangun dan membantai semua orang secara brutal. Hanya Casey yang tersisa untuk mengejar makhluk ini.

Kira-kira begitulah gambaran dari 15 menit awal film The Predator. Baru sebagian film saja, saya sudah dibuat ngilu saking banyaknya adegan sadis pada film ini. Selain luka tusuk dan luka cakar, Anda juga akan disuguhi banyak adegan bagian tubuh yang terputus. Kalau Anda bukan penggemar film gore dan tidak kuat melihat darah, siap-siap saja merasa ngilu sepanjang film. Tapi tenang saja, seluruh adegan ini terjadi dengan sangat cepat dan intens. Saya pribadi sih lebih tidak tahan dengan adegan sadis yang terjadi dengan pelan. Kalau dijejali terus menerus seperti di film ini, lama-lama akan kebal sendiri jadinya.

Aksi Perburuan Brutal yang Diselingi Kelakuan Jenaka The Loonies

The Predator

Meskipun sarat akan adegan sadis dan situasi menegangkan, penonton masih bisa beristirahat karena selingan komedi pada film ini. Cukup banyak kelakuan dan percakapan para pemeran yang memicu gelak tawa seluruh studio. Penyebabnya, tak lain tak bukan adalah The Loonies. Di aksi ini, Quinn McKenna tentu tidak bekerja sendirian. Ia dibantu oleh sekelompok mantan tentara yang dianggap gila karena mengalami PTSD pasca perang. Mereka bertemu di dalam bis yang membawanya menuju rumah sakit jiwa.

Baru pertama kali ketemu saja, para penghuni bis ini sudah mampu membangun ikatan persaudaraan yang solid. Dan latar belakang bekas tentara yang dimiliki masing-asing orang, membuat mereka secara alami sudah dibekali berbagai keahlian yang mumpuni untuk bertahan hidup dan melawan predator. Di perjalanan ini pula, mereka bertemu dengan Casey dan bersama-sama melawan predator. Menariknya, ditengah film yang menghadirkan banyak adegan sadis ini, film ini tetap mampu memasukkan sisi sentimental dari persahabatan The Loonies. Bahkan, ada beberapa adegan yang berhasil membuat saya terharu, lho!

Film Aksi yang Menghibur

The Predator

Kalau melihat dari daftar pemainnya, film The Predator memang tidak memasang aktor A-list Hollywood, namun pilihan cast-nya seperti Olivia Munn (X-Men: Apocalypse, Iron Man 2), dan Jacob Tremblay (Room, Wonder) menjadi keputusan yang tepat. Jacob dengan kemampuan akting yang tak perlu diragukan, serta penampilan Olivia yang tak hanya menarik tapi juga berhasil menampilkan sosok badass yang memesona. Secara keseluruhan, saya bisa bilang kalau The Predator adalah film yang cukup menghibur. Ceritanya sederhana (bahkan cenderung mudah ditebak). Namun, Shane mampu mengemas film ini dengan baik sehingga tidak terasa membosankan. Belum lagi efek CGI yang digunakan pada film ini tegolong smooth dan memberi kesan nyata. Secara keseluruhan saya akan memberikan rating 6.8/10.

Bagi Anda yang ingin menyaksikan aksi seru para manusia memburu predator, tidak perlu menunggu lagi, karena film ini sudah bisa disaksikan di berbagai layar bioskop kesayangan Anda mulai tanggal 12 September 2018. Eits, tapi sebelum membeli tiketnya, perlu diingat jika film ini memiliki rating D. Jadi pastikan untuk tidak mengajak anak di bawah umur saat menyaksikannya, ya!

Baca juga: Review Film: Crazy Rich Asians, Kisah Romantis dalam Gemerlap Kaum Jetset Asia

PREVIOUS ARTICLE

Hidup Lebih Seimbang dengan Gaya Hidup Lagom Ala Masyarakat Swedia

NEXT ARTICLE

Fakta Menarik Kevin Kwan, Penulis Novel Crazy Rich Asians yang Fenomenal

RELATED ARTICLES

Content Writer at Beauty Journal

COMMENTS

5comments


  • VICHA AMANDA1 week ago

    haloo kak follow back ya! thank you~

  • visca nurulita1 month ago

    followback yaaa;)

  • Zahrina Dessyrinata1 month ago

    hi, follback ya. thanks :)

  • Zahrina Dessyrinata1 month ago

    hi, follback ya. thanks :)

  • Deci Siti Nurhalimah2 months ago

    it could be entertaiiining...