ATUR ULANG PASSWORD

Atur ulang password

Lupa password Anda? Masukkan alamat email.

Lifestyle

Najwa Shihab: 17 April 2019 Generasi Muda Harus Menentukan Keberpihakan. Jangan Main Aman apalagi Netral

Hanya dalam hitungan bulan, tepatnya 17 April 2019 seluruh warga negara Indonesia akan menentukan pilihan mengenai siapa presiden dan wakil presiden Republik Indonesia selama 5 tahun ke depan. Di tahun politik ini pula, wajah media sosial mengalami perubahan. Mulai dari munculnya akun-akun yang mengatasnamakan diri sebagai pendukung salah satu calon, bombardir berita berbau kampanye, hingga isi timeline yang mulai diramaikan dengan pendapat para netizen mengenai keberpihakan mereka.

Kondisi ini merupakan hal lumrah dan kerap muncul menjelang masa kampanye. Namun sebagai pengguna media sosial sekaligus pemilih, Anda harus mau untuk membuka mata dan turut larut dalam gegap gempita kampanye. Karena bersikap tak acuh atau bahkan bertekad menjadi pemilih netral merupakan sebuah kesia-siaan yang seharusnya tak dilakukan para generasi muda.

Kurang lebih hal itulah yang coba diungkapkan Najwa Shihab saat hadir dalam acara Indonesia Millennial Summit 2019 pada Sabtu (19/1) lalu. Jurnalis yang sudah berkecimpung selama 17 tahun ini memaparkan pesannya untuk generasi millennial dalam menelaah dan memilah informasi yang didapat agar bisa menentukan sikap pada pemilu mendatang.

Anak Muda Tidak Suka Berita Receh dan Lebih Cerdas dalam Memilih Berita Hoax

tips bagi millennial dari najwa shihab dalam hadapi tahun politik

Sumber gambar: IDN Times

Melalui panel bertema “From Critical Commentaries to Concreate Solutions“, Najwa hadir bersama Jenderal TNI (Purn.) Dr. Moeldoko dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, Ignasius Jonan. Dalam panel tersebut Najwa mengungkapkan pendapatnya mengenai karakteristik para generasi millennial dalam menikmati konten berita dan menghadapi berita hoax yang marak terjadi.

“Ada perubahan dalam cara orang mengonsumsi media, semua informasi muncul dari tangan (gawai), maka kita sebagai media juga harus mengikuti perubahan. Itulah yang membuat saya dan teman-teman membuat konten berkualitas melalui Narasi TV. Kami nggak pecaya anak muda sukanya yang receh-receh, ada banyak yang suka meremehkan anak muda dan bilang ‘anak muda sukanya yang receh’. Kenyataanya sama sekali jauh dari itu. Anak-anak muda juga memiliki perhatian terhadap isu penting, menyaksikan debat capres sambil membahas hal yang penting, peduli pada isu lingkungan, peduli mengenai kabar terbaru freeport, dan lain-lain.

Namun sayangnya ketertarikan generasi muda juga menghadapi tantangan tersendiri, terutama bagi media dalam menyebarkan berita yang berkualitas.

“Sampai saat ini dalam informasi masih banyak sampah, dan kewajiban para penikmat informasi adalah untuk mau memilah, milih mana yang sampah, mana yang virus dusta, dan mana informasi yang betul punya kredibilitas. Sebagai media akhirnya kami juga tidak hanya membagikan berita tapi membuat workshop content creator agar para generasi muda semakin cerdas dalam mencerna dan membagikan informasi,” papar Najwa dengan tegas.

Najwa meyakini jika generasi muda lebih tahan banting dengan informasi yang bersifat hoax, dibandingkan generasi tua. Maka itu generasi muda perlu diarahkan untuk mau membuat informasi yang faktual. “Untuk generasi muda kecepatan itu sesuatu yang normal, berbeda dengan generasi tua. Bagi mereka kecepatan adalah hal luar biasa. Maka nggak heran kalau di grup chat keluarga kebanyakan generasi tua yang banyak menyebar berita. Jadi menurut saya generasi muda lebih kebal terhadap hoax, tapi harus tetap dilatih. Jangan mau sembarang percaya informasi. Seperti di masa kampanye ini, anak muda harus kritis memilah, mana yang penting, mana yang janji, mana yang bukti dan mana yang retorika.”

Baca adalah Kunci

tips bagi millennial dari najwa shihab dalam hadapi tahun politik

Sumber gambar: IDN Times

Lalu bagaimana para pemilih muda bisa mengetahui, mana berita yang benar dan mana yang sekadar isapan jempol? Menurut Najwa, tak ada cara yang lebih mudah selain kebiasaan mau membaca. “Cara yang paling gampang cuma Iqra, baca. Baca membuat kita punya kedalaman imajinasi, keluasan hati dan tidak mudah terprovokasi. Cari tahu banyak hal, perbanyak rujukan, kenali banyak orang dan jangan baperan.” Najwa pun menambahkan, “Dalam dunia politik jangan mudah gampang terprovokasi. Kita yang angot-angotan, elitnya gampang kok pindah kanan kiri. Kita yang saling maki, elitnya lobi-lobi untuk posisi. Jadi nggak usah terlalu terbawa perasan. Politik itu hal yang biasa.”

Politik itu buka Tinder, buka cuma swipe kiri dan swipe kanan, ada banyak alternatif pilihan, asal kita mau keluar dan mencari tahu dan memutuskan yang betul-betul kita anggap tepat.

Memasuki tahun politik, Najwa juga berharap semua generasi muda mau meluangkan waktu untuk memperdalam infromasi mengenai para calon pemimpin. Keluar dari zona nyaman, bahkan usahakan untuk mencari informasi dengan menggunakan web browsing bermode incognito.

“Hidup itu harus memilih, dan harus menentukan keberpihakan. Proses untuk sampai menentukan sikap itu juga harus lewat pertimbangan, dan proses rasionaliasi yang matang bukan berarti tak berpihak. Hari gini generasi muda kok cuma main aman, main netral, kita harus berpihak, tapi lewat proses. Perluas informasi dengan membuka diri pada berbagai hal, karena kadang kita hanya cenderung mencari informasi yang mendukung bias kita. Meski butuh effort lebih untuk bisa krtitis, karena otomatis kita akan lebih senang dan percaya pada apa yang diyakini. Algoritma pencarian hanya membuat kita melihat apa yang kita suka dan kita like. Padahal belum tentu sesatu yang kita suka itu yang benar,” ujar Najwa.

Serupa dengan acara yang kerap ia bawakan, di akhir panel Najwa juga meminta waktu untuk membacakan sedikit pesan berima dari semua yang sudah ia sampaikan.

“Para pemimpin bisa menggariskan rencana, namun kenyataan hanya dapat digubah oleh kita semua. Nama-nama besar yang beredar hari ini paling banter hanya bertahan satu atau dua dekade lagi. Anak-anak mudalah sang pemimpin masa depan. Menyedihkan jika ikut mempertajam perpecahan malah aktif menyebarkan ujaran kebencian. Gampang hanyut oleh informasi sembarangan, larut dalam propaganda politik murahan. Indonesia adalah keberagaman yang seharusnya meenguatkan. Rawatlah dengan segala kemampuan yang dapat dikerahkan, jangan mau sekadar menjadi serdadu bagi generasi tua, sebab kesempatan justru milik anak anak muda. Bikinlah barisan sendiri selagi bisa, jangan silau dengan para berhala yang sibuk berebut kuasa, jadilah penenang bagi rakyat yang gelisah, jadilah penentu ketika semua jalan terlihat buntu.”

Baca juga: Sebagai Lanjutan dari #MeToo Movement, #TimesUp Didapuk Menjadi Kampanye Baru yang Disuarakan dalam Golden Globes 2019

PREVIOUS ARTICLE

Merasa Ragu akan 5 Hal Ini? Jangan Diabaikan, Bicarakan Segera dengan Pasangan Anda

NEXT ARTICLE

Tanya Ahli: Diet Militer vs Diet Puasa, Mana yang Lebih Sehat?

RELATED ARTICLES

comments