ATUR ULANG PASSWORD

Atur ulang password

Lupa password Anda? Masukkan alamat email.

Guide

Mengenal Hikikomori, Sikap Mengurungi Diri yang Banyak Dilakukan Masyarakat Jepang

Siapa yang tidak terpesona dengan keindahan alam Jepang dan kedisiplinan masyarakatnya? Begitu banyak hal yang dapat Anda kagumi dari negeri matahari terbit ini. Namun, jika Anda melihat lebih dalam lagi tentang kehidupan di sana, sebagian masyarakat Jepang ternyata memiliki kebiasaan menyendiri. Sifat individualisme ini yang kemudian memicu permasalahan baru pada kehidupan sosial di Jepang.

menyendiri masyarakat jepang

Beberapa tahun terakhir, ada peningkatan yang mengkhawatirkan dalam kebiasaan orang Jepang, yakni menarik diri dari dunia luar. Orang-orang yang menderita kondisi ini memandang dunia luar sebagai musuh, kekerasan, dan agresif. Karena itu, mereka mengurung diri dengan cara yang ekstrem. Seorang psikiater Jepang, Tamaki Saito, menamakan sindrom ini dengan istilah hikikomori yang berarti “dikurung” dalam bahasa Jepang. Saito mendefinisikannya sebagai penyakit mengasingkan diri dari dunia luar secara sengaja yang dilakukan selama jangka waktu minimal 6 bulan. Sebagian besar, sindrom menarik diri dari dunia sosial ini dilakukan oleh anak remaja hingga dewasa yang tidak memiliki ketertarikan interaksi sosial, kegiatan sekolah, atau komitmen bekerja. Dan kebanyakan pelaku hikikomori adalah laki-laki. Menurut Saito, sebenarnya para pelaku hikikomori merasa tersiksa dalam pikiran, dan ingin keluar dan menjalin hubungan atau bertemu dengan orang lain. Hanya saja mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu.

Penyebab seseorang mengalami hikikomori

Hingga saat ini belum diketahui pasti apa penyebab perubahan psikologis yang menerpa para pelaku hikikomori. Namun para ahli menyebutkan kemungkinan berbagai penyebab yang bisa menimbulkan Hikikomori. Mulai dari penyebab di dunia pendidikan. Di mana seorang siswa yang gagal mengikuti tes, bullying, hingga penyakit bulan Mei saat tahun ajaran baru, di mana mereka harus bertemu dengan lingkungan baru sehingga memaksa individu untuk beradaptasi kembali. Belum lagi untuk tingkat perguruan tinggi, di Jepang tergolong sangat kompetitif yang kerap menimbulkan rasa stres hingga depresi para siswa.

hikikomori masyarakat jepang

Selain itu, faktor keluarga juga bisa menjadi pemicu terjadinya Hikikomori. Di sini, peran orangtua sangat penting. Sikap orang tua yang terlalu protektif disebut bisa memicu terjadinya Hikikomori. Orang tua yang overprotektif akan berusaha memfasilitasi anaknya di rumah senyaman mungkin, sehingga membuat si anak jarang keluar rumah dan bersosialisasi dengan dunia luar.

Kekuatan sosial ikut turut andil dalam terjangkitnya sindrom ini. Seseorang yang merasa reputasinya harus baik demi mengesankan orang lain dapat memicu terjadinya Hikikomori. Di saat mereka membuat kesalahan atau merasa tidak pantas terhadap seseorang, mereka bisa langsung kehilangan harga diri dan kepercayaan diri dalam bersoisialisasi, sehingga melangkahkan kaki dan meninggalkan rumah untuk bertemu orang menjadi hal yang sangat menakutkan.

Mengenal tipe Hikikomori

Semua pelaku hikikomori memang mengurung diri mereka demi menghindari interaksi sosial dengan dunia luar. Namun, tidak semua orang melakukanya dengan tingkat yang sama. Para ahli telah mengidentifikasikan 4 jenis hikikomori, di antaranya:

Pra-hikikomori: Orang-orang ini tetap pergi menghadiri kuliah seperti biasa. Namun, mereka berusaha mengihindari diri dari segala bentuk interaksi soosial.

Social Hikikomori: Mereka menolak untuk bekerja atau belajar, tetapi memiliki beberapa hubungan sosial yang sebagian besar dilakukan secara online.

Tachisukumi-gata: Tipe orang ini menunjukkan fobia sosialnya secara nyata. Mereka akan merasa sangat takut saat dihadapkan dengan dunia luar.

Netogehajin: Secara harfiah, Netogehajin memiliki arti “computer zombie“, di mana anak-anak remaja ini benar-benar terisolasi dan menghabiskan waktu di depan komputer atau hal virtual lainnya.

Cara mengatasi Hikikomori

Meski menjadi fenomena yang marak di Jepang, bukan berarti hal ini tak berlaku di Indonesia. Karena bisa saja tanpa sadar Anda atau orang terdekat mulai mengalami gejala ini. Seperti lebih nyaman berada di rumah dan melakukan interaksi secara virtual yang lama kelaman membuat Anda enggan melakukan sosialisasi dan berkomunikasi secara langsung dengan orang lain.

Untuk mengatasi fenomena ini, ada berbagai pendekatan yang bisa dilakukan, seperti mengatur kembali hubungan antara anggota keluarga. Mulai mengurangi ketergantugan pada benda virtual dan banyak melakukan aktivitas sosial secara langsung, serta berkonsultasi dengan psikiater agar bisa mendapatkan perawatan yang tepat baik melalui konsumsi obat maupun melakukan berabgai terapi.

Baca juga: Mengenal Karoshi, Fenomena Gila Kerja yang Memicu Kematian di Jepang

PREVIOUS ARTICLE

Multi Talenta! Berikut 7 Film dan Drama Series yang Berhasil Membuktikan Kemampuan Akting D.O Kyungsoo EXO

NEXT ARTICLE

Mattel Akan Merilis Boneka Barbie versi Boyband K-Pop BTS

RELATED ARTICLES

Content writer at Beauty Journal

comments