ATUR ULANG PASSWORD

Atur ulang password

Lupa password Anda? Masukkan alamat email.

Lifestyle

Kampanye #MeToo di Media Sosial, Bentuk Dukungan Agar Wanita Mau Bersuara Jika Mengalami Pelecehan Seksual

Skandal pelecehan seksual yang dilakukan oleh Harvey Weinstein masih saja ramai dibicarakan. Harvey adalah seorang produser film yang memiliki perusahaan Miramax dan The Weinstein Company yang telah menelurkan film berkualitas, seperti “Pulp Fiction”, “Shakespear in Love”, “Gangs of New York”, dan “Good Will Hunting”. Harvey dituduh telah melakukan pelecehan seksual ke banyak wanita, termasuk sederet aktris kenamaan Hollywood. Ternyata nih, pelecehan ini telah lama terjadi namun ditutup-tutupi oleh Harvey. Mereka yang dilecehkan pun tutup mulut dan tak pernah mengungkapkannya ke media karena berbagai alasan.

Kampanye #MeToo - Cover

Barulah, ketika The New York Times menulis kisah mengenai pelecehan seksual yang dilakukan Harvey Weinstein, publik pun bereaksi keras. Berita diawali oleh pengakuan aktris Ashley Judd dan pelecehan yang dilakukan dua dekade lalu. Tim The New York Times pun melakukan investigasi dan menemukan kalau Harvey sudah melakukan pelecehan sejak tiga dekade lalu alias 30 puluh tahun lamanya! Tak hanya aktris, pegawai di Miramax dan The Weinstein Company pun tak luput dari incaran Harvey.

Baca Juga: Kabar Pelecehan Harvey Weinstein Bikin Heboh Dunia Showbiz Hollywood, Ini Para Aktris yang Pernah Menjadi Korbannya

Dipopulerkan Aktris Alyssa Milano

Berangkat dari berita di The New York Times, satu per satu korban pelecehan Harvey Weinstein mulai buka suara. Para aktris dan aktivis pun giat mendorong korban pelecehan untuk ikut bicara dan bergabung untuk menyuarakan keadilan. Di Twitter, aktris Alyssa Milano bergerak dengan serangkaian tweet dengan tagar #MeToo. Alyssa adalah salah satu aktris yang memang paling vokal mengangkat kasus ini (selain isu seputar politik dan emansipasi wanita).

 

Tagar #MeToo ini memang tidak ditujukan sebagai ajang bashing Harvey Weinstein, melainkan sebagai bentuk dukungan terhadap para wanita yang pernah mengalami pelecehan seksual. Tagar ini juga sebagai bentuk kampanye melawan pelecehan seksual yang dialami kaum wanita. Siapa saja yang ingin berbagi cerita dan info atau mendukung para korban bisa mencantumkan #MeToo dalam tweet mereka. Hasilnya, sejak pertama kali digunakan, tagar #MeToo telah menembus satu juta tweet. Di Facebook, tagar ini juga mencapai lebih dari 12 juta post, comment, dan reaction!

Tagar #MeToo Sebagai Sarana Awareness dan Pemulihan yang Baik

Uniknya, tagar #MeToo yang menggunakan pendekatan non-agresif ini dianggap menjadi kampanye awareness yang cukup berhasil. Bahkan, seorang psikolog di Los Angeles, dr. Nicole Lightman, mengatakan ajakan sharing ini bisa menjadi langkah pertama yang baik bagi korban pelecehan seksual. “Masyarakat jadi lebih mengenal masalah ini dan mendiskusikannya. Rasa malu karena kasus seperti ini pun jadi lebih berkurang.”

Kampanye MeToo

Kampanye #MeToo di Stockholm, Swedia, pada 22 Oktober yang dihadiri ratusan orang.

Meski viral berkat Alyssa, tagar ini rupanya telah dimulai 10 tahun lalu oleh aktivis Tarana Burke yang juga pernah mengalami kekerasan seksual ketika masih kecil. Tarana menciptakan gerakan Me Too tahun 2007 sebagai bentuk solidaritas kepada para wanita yang pernah menjadi korban pelecehan atau kekerasan seksual. Kini, gerakan tersebut mendunia dan para wanita dari berbagai negara berani menceritakan pengalamannya menggunakan tagar #MeToo. Bahkan, salah satu menteri dalam kabinet pemerintahan Prancis sedang mengupayakan disahkannya peraturan baru yang mengatur adanya denda untuk setiap orang yang bersiul dan melecehkan para wanita di jalan raya.

Nah, terbukti kan kalau kampanye melalui media sosial cukup efektif dan tak harus selalu agresif. Apakah Anda ikut mendukung kampanye #MeToo ini?

PREVIOUS ARTICLE

Yuk, Ketahui Hubungan Antara Masalah Emosi dan Reaksi Kulit Melalui Psychodermatology

NEXT ARTICLE

Ingin Deadline Cepat Selesai? Ini 5 Hal Penting Bagi Anda yang Bekerja Dari Rumah

RELATED ARTICLES

comments