ATUR ULANG PASSWORD

Atur ulang password

Lupa password Anda? Masukkan alamat email.

Lifestyle

Jaga Kelestarian Laut, Kampanye Anti Sedotan Plastik Semakin Marak di Indonesia. Sudahkah Anda Berpartisipasi?

Saat membeli bubble milk tea, jus buah, atau kopi susu langganan sehari-hari, mungkin bukan satu atau dua kali Anda berpesan pada sang pegawai untuk mengurangi takaran es atau gulanya. Meski seolah sudah menjadi ‘kewajiban’ bagi restoran atau kafe untuk memberikan gula, es batu, dan juga sedotan, namun ternyata hal tersebut tidaklah esensial, melainkan hanya sebuah kebiasaan. Selain permintaan untuk mengurangi es dan gula, pernahkah Anda berkata pada sang pegawai untuk tidak meminta sedotan?

Meski terkesan sepele, namun tanpa disadari kebiasaan menggunakan sedotan plastik punya dampak yang begitu besar bagi lingkungan, terlebih pada biota laut. Dilansir dari Strawless Ocean, kurang lebih ada 500 juta sedotan plastik yang digunakan setiap harinya di Amerika. Jika kebiasaan tersebut tidak dibatasi, keberadaan plastik di tahun 2050 diprediksikan akan lebih banyak ketimbang ikan di lautan. Turut menguatkan informasi sebelumnya, Divers Clean Action memperkirakan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya bisa mencapai 93.244.847 batang, di mana jika jumlah tersebut direntangkan akan mencapai jarak 16.784 km atau sama dengan jarak tempuh Jakarta ke kota Meksiko.

Selain data di atas, ditemukan pula sebuah studi yang menyebutkan bahwa 80-90% burung di sekitar area laut tanpa sengaja memakan plastik. Buruknya lagi, di tahun 2015 silam, sempat viral tayangan video yang menunjukkan kondisi seekor penyu dengan sedotan yang tersangkut di hidungnya. Berawal dari hal tersebut, kampanye anti sedotan plastik pun semakin marak digalakan oleh masyarakat Indonesia. Jika ditilik kembali, angka ‘fantastis’ di atas sangatlah miris, bukan? Untuk itu, sebagai salah satu penanggulangannya, beberapa brand besar seperti KFC, NUSA Indonesian Gastronomy, dan juga Starbucks turut mendukung kampanye anti sedotan plastik dengan tidak memberikan sedotan plastik.

Kenapa Sedotan Plastik Menjadi Masalah Besar?

Beberapa di antara Anda mungkin sudah ada tahu akan betapa pentingnya mengurangi sampah kantung plastik saat berbelanja. Namun, belum banyak yang sadar bahwa sedotan juga termasuk ke dalam daftar 10 sampah yang paling banyak yang ditemukan saat pembersihan pantai. Selain karena kuantitas penggunaannya begitu tinggi, sedotan plastik juga masih jadi masalah karena sulit didaur ulang. Sedotan menjadi masalah yang lebih spesifik karena memiliki ukuran yang kecil, sehingga tidak bisa tersortir alat daur ulang sampah, sulit untuk disortir secara manual, dan kerap tidak diambil oleh pemulung. Alhasil, sampah sedotan plastik pun menumpuk, di mana sebagian besar sampah akhirnya bermuara ke laut.

Masalah kedua pun muncul, di mana ketika sampai di laut, plastik akan terurai menjadi potongan yang lebih kecil atau disebut juga dengan microplastics. Rupanya, microplastics inilah yang akan mengancam biota laut karena besar kemungkinan dapat termakan. Dalam studi yang dilakukan oleh UGA New Materials Institute, microplastics yang ukurannya jauh lebih kecil dari debu dan gula halus bahkan kerap ditemukan dalam tubuh bayi penyu. Dari semua bayi penyu yang diteliti, hasilnya 100% bayi penyu tersebut telah mengonsumsi plastik. Mirisnya lagi, partikel plastik ini juga ditemukan hingga ke butiran pasir di pesisir pantai, bahkan air keran, dan tentunya ikan-ikan di pasar hasil tangkapan dari laut.

Kampanye Anti Sedotan Plastik

Bersamaan dengan kampanye dan tren gaya hidup zero-waste, berbagai kampanye anti sedotan plastik seperti Strawless Ocean, The Final Straw, atau Jakarta Tanpa Sedotan pun kini semakin marak ditegaskan. Tak sedikit pula influencer, public figure, atau selebriti yang turut mendorong kampanye ini dengan membantu mengedukasi dan menunjukkan langkah yang telah mereka lakukan dalam rangka mengurangi sampah plastik di akun Instagram-nya. Bahkan, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti turut mengungkapnya imbauannya di Twitter, lho!

“Stop penggunaan sedotan plastik. Menjadi sampah di laut dan menyakitkan kesayangan kita.” – Susi Pudjiastuti.

Tak bisa dipungkiri, beberapa orang mungkin masih tetap membutuhkan sedotan, terutama mereka yang memiliki kondisi kesehatan khusus. Untungnya, tanpa perlu ‘mengorbankan’ lingkungan, kini terdapat berbagai alternatif untuk mengurangi sampah sedotan plastik ,seperti sedotan stainless, sedotan kaca, atau sedotan kertas. Untuk membantu mengurangi penggunaan sedotan plastik, Anda pun bisa membawa sedotan alternatif ini saat bepergian dan makan di luar. Well, mengingat dampaknya yang bisa merugikan alam, sudahkan Anda berpartisipasi dalam mengurangi penggunaan sedotan plastik?

PREVIOUS ARTICLE

Tak Hanya Menghibur, 10 Film dari Studio Animasi Pixar Berikut juga Menyimpan Pesan Moral yang Mendalam

NEXT ARTICLE

Ini Dia Daftar Lengkap Pemenang Grammy Awards 2019!

RELATED ARTICLES

Content Writer at BeautyJournal.

comments