ATUR ULANG PASSWORD

Atur ulang password

Lupa password Anda? Masukkan alamat email.

Inspiration

Sepenggal Kisah di Balik Tulola Jewelry, Bisnis Perhiasan Happy Salma yang Lahir dari Hati

Jarang muncul di layar kaca, Happy Salma diketahui tengah sibuk membangun usahanya di Bali. Ibu dari dua orang anak ini adalah sosok di balik lahirnya Tulola Jewerly, studio perhiasan buatan tangan asal Pulau Dewata yang telah memiliki ribuan pelanggan, baik dari tanah air maupun internasional. Sebelum menggeluti industri bisnis, Happy Salma lebih dahulu dikenal berkat perannya dalam berbagai film Indonesia, mulai dari Gie hingga 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita. Tak hanya piawai beradu peran, sosok kelahiran 4 Januari 1980 ini pun mahir menulis dan telah menerbitkan tiga buah buku.

Di tahun 2007, pertemuan Happy dengan Sri Luce membawanya ke industri bisnis perhiasan. Kini, bisnisnya telah berjalan lebih dari 10 tahun dengan deretan nama seleb sebagai pelanggan tetapnya, salah satunya Sarah Sechan. Saat ditemui dalam acara peluncuran koleksi terbarunya, ‘Dewi Sri’, di Hotel Dharmawangsa, saya mewakili tim Beauty Journal pun berkesempatan untuk berbincang-bincang seputar perjalanan bisnisnya. Yuk, simak perbincangan kami di sini!

Pertemuan dengan Sri Luce

Interview Happy Salma

Happy Salma dan Dewi Sri Luce Rusna

Kiprah Happy Salma di industri perhiasan bermula dari pekerjaan Happy untuk menulis buku The Warrior Daughter yang mengisahkan perjalanan hidup Desak Nyoman Suarti. Desak Nyoman Suarti merupakan sosok maestro pengrajin perak asal Bali yang juga merupakan ibunda dari Dewi Sri Luce Rusna. Kerap bersinggungan dengan Sri Luce yang diketahui punya minat serupa, Happy pun meyakinkan Sri Luce untuk menjadi desainer perhiasan yang sebenarnya.

“Tadinya kami kolaboratif, sering ikut pameran. Namun, akhirnya kami join menghadirkan Tulola. Saya lebih banyak menghadirkan ide dan konsep kreatif, sedangkan Sri full di bagian desain. Sekarang juga ada Franka, partner terbaru kami yang berfokus di bagian bisnis,” tutur Happy.

Baca juga: Terinspirasi dari Keindahan Padi, Tulola Jewelry Persembahkan Koleksi Baru dengan Tema ‘Dewi Sri’

Pertahankan Warisan Budaya Tanah Air

Interview Happy SalmaUntuk menghadirkan sebuah produk atau koleksi, Happy menjelaskan bahwa konsep kreatif biasanya sudah ada dari setahun sebelumnya. Kemudian, barulah ditentukan, koleksi mana yang nantinya akan dibuat terlebih dahulu. Seluruh koleksi Tulola pun 100% handmade alias buatan tangan, sehingga tak jarang beberapa perhiasannya, terutama artware dapat memakan waktu pembuatan hingga berbulan-bulan.

“Nah, kalau untuk koleksi Dewi Sri, proses pembuatannya kurang lebih sekitar 6 bulan, terhitung mulai dari konsepnya. Kami terinspirasi dari Dewi Sri atau Dewi Padi yang menjadi simbol kesuburan dan kecantikan. Apalagi, Indonesia sendiri kan memang merupakan negara agraris,” jelas Happy sambil menunjukkan koleksinya. “Dalam koleksi ini, ada unsur embun, padi, ilalang, burung di sawah, hingga keranjang padi dan ini semua menggambarkan kekayaan Indonesia,” tambahnya lagi.

Happy juga menuturkan bahwa koleksi Tulola terbuat dari silver yang diyakini memiliki kualitas terbaik dengan plating emas. Dalam proses pembuatannya, Tulola selalu memiliki konsep di balik tiap desain, dikerjakan oleh 10 orang maestro dan 30 orang tukang yang telah dibekali dengan training khusus. Menariknya lagi, Tulola pun memiliki laboratorium khusus yang ditujukan untuk gold plating, sehingga hal inilah yang membuat Tulola berbeda dengan brand aksesoris atau perhiasan Bali lainnya.

“Teknik untuk para pengrajin ini turun-temurun. Harapannya, kalau misalnya market perhiasan ini terus berkembang mereka pun bisa mewariskan keahliannya pada generasi selanjutnya. Menurut aku, ini yang harus dipertahankan, karena teknik kan nggak ada sekolahnya,” ujarnya sambil tersenyum. Untuk saat ini pun pembeli Tulola masih didominasi masyarkat lokal, walaupun awalnya lebih banyak dari luar. Jadi, Tulola selalu berinovasi memasukan unsur lokal dengan tampilan yang modern.

Pelajaran yang Bisa Dipetik

Berbekal pengalamannya berbisnis, Happy memaparkan bahwa untuk tetap konsisten, menjaga kualitas produk, serta adanya plagiarisme adalah hal yang paling menantang dalam menjalankan Tulola. “Kalau ada yang buat desain sama, meskipun mengesalkan tapi, ya, gapapa. Justru itu yang memacu kita untuk terus berkarya,” tutur Happy. Ia juga mengaku sangat mengagumi para tukang yang masih piawai mengerjakan berbagai teknik desain 100% hanya dengan tangan.

Sebaliknya, Happy menyebutkan bahwa hal yang paling menyenangkan dalam pekerjaannya adalah ketika ia melakukan perjalanan untuk mencari ide. “Kami pernah pergi ke daerah Cilincing dan tak sengaja menonton Keroncong Tugu yang memainkan tembang Juwita Malam. Dari sini, kami sangat terinspirasi dan akhirnya lahirlah koleksi Juwita Malam,” ceritanya sambil tertawa.

Terakhir, Happy juga berpesan, “Membangun brand atau bisnis harus lahir dari hati. Kita pun harus selalu mengasah kreativitas dan tidak boleh berhenti di satu titik saja,” ia pun menutup perbincangan ini dengan harapannya agar Tulola semakin maju dan dapat diakses sebanyak-banyaknya.

Baca juga: Keteguhan Komitmen Happy Salma

PREVIOUS ARTICLE

Deretan Idol Group dan Penyanyi Korea yang Comeback di Bulan Januari, Mana Favorit Anda?

NEXT ARTICLE

Jaga Kebersihan Area kewanitaan Selama Menstruasi dengan Memerhatikan 5 Hal Berikut!

RELATED ARTICLES

Content Writer at BeautyJournal.

comments