ATUR ULANG PASSWORD

Atur ulang password

Lupa password Anda? Masukkan alamat email.

Editors Review

BJ Editors: Prediksi Pemenang Best Picture Ajang Oscars 2018

Hanya dalam hitungan hari, ajang bergengsi Oscars akan kembali diadakan. Memasuki tahun ke-90, acara yang akan berlangsung di Dolby Theatre, Hollywood, Amerika Serikat, ini akan menghadirkan sederetan kategori dalam dunia perfilman. Mulai dari Sutradara terbaik, Aktris dan Aktor Terbaik hingga Film Asing terbaik. Namun dari beragam kategori yang muncul, tentu Best Picture jadi yang paling ditunggu. Untuk tahun ini, Oscars memiliki 9 nominasi film terbaik, yaitu: Call Me By Your Name, Darkest Hour, Dunkirk, Get Out, Lady Bird, Phantom Thread, The Post, The Shape of Water, dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri.

Nah, sebelum Anda benar-benar mengetahui pemenangnya di tanggal 4 Maret 2018 nanti, tim editor Beauty Journal punya prediksi tersendiri soal film mana yang akan mendapat predikat film terbaik tahun 2018 ini. Dari 9 film yang jadi nominasi, berikut 5 film favorit kami.

Grisselda

Jagoan saya sudah pasti Darkest Hour! Saat sudah resmi rilis, saya langsung semangat nonton film ini karena, jujur saja, Gary Oldman yang jadi pemeran utamanya. Fans Harry Potter lain mungkin punya alasan yang beda tipis dengan saya: ingin lihat Sirius Black yang sekarang jadi Winston Churchill! Hehehe… Saya dibuat salut bukan main dengan seluruh cast dan film ini secara keseluruhan. Keahlian para aktor yang terlibat di film ini, intrik politik yang kental, momen-momen menegangkan, sampai detail dan nuansa scene demi scene terasa saling menguatkan dan melengkapi. Sinematografinya indah sekali! Jujur saja, walau sudah tahu ceritanya akan berakhir seperti apa, saya tetap ikut terbawa stres dan pusing karena peliknya masalah yang dihadapi Winston Churcill saat itu. Namun yang paling “kena” dan terus membekas di benak saya adalah betapa “manusianya” seorang Winston Churchill. Walau di luar terlihat keras dan keras kepala, ada momen di mana ia menunjukkan sisi vulnerable-nya, seperti saat di depan istri, dan sekretarisnya. Saya pun takjub dengan determinasi Winston Churchill yang terportret dengan sangat baik di film ini. Tidak mudah mengambil keputusan yang ditentang banyak orang, terlebih dari kubu sendiri. Tidak mudah juga untuk mengambil keputusan yang risikonya begitu tinggi, apalagi pertaruhan nasib negara. Bagaimana cara dia menghadapi beragam konflik yang dikemas dengan brilian juga salah satu alasan yang buat saya makin mantap menjagokan Darkest Hour di Oscars.

Ammy

Meskipun belum berkesempatan menonton semua film yang jadi nominasi di kategori ini, tapi kalau ditanya siapa pemenangnya,  prediksi saya adalah film “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri” karya Sutradara Martin McDonagh. Meskipun tidak menonjol dari segi sinematografi, tapi konflik yang diangkat film ini cukup lekat dengan kondisi Amerika saat ini, menyinggung masalah rasisme, serta kasus pelecehan yang tak menemukan titik terang.

Film bergenre crime, drama, dan dark comedy ini berkisah tentang Mildred (Frances McDormand), seorang Ibu yang menyewa tiga billboard untuk mempertanyakan kasus pemerkosaan putrinya yang tak kunjung terselesaikan. Tidak ada si protagonis maupun antagonis di film ini, semua karakter tiap pemeran berada dalam ranah abu-abu. Bahkan karakter yang awalnya begitu terlihat menyebalkan, seiring waktu mampu menarik simpati (ini yang saya rasakan). Ide cerita yang fresh dengan menjadikan billboard sebagai media untuk menuntut keadilan, juga jadi nilai plus tersendiri. Buktinya, beberapa komunitas dan aktivis di Inggris dan Amerika melakukan hal serupa karakter Mildred untuk mempertanyakan kasus hukum yang tak kunjung selesai. Jadi, dari berbagai segi, baik humanis maupun kualitas film,”Three Billboards Outside Ebbing, Missouri” terasa layak mendapat predikat film terbaik.

Andin 

Menurut saya, film yang disutradarai oleh Guillermo Del Toro cukup layak menjadi menjadi ‘Best Picture‘ di antara 8 film lainnya yang berhasil masuk nominasi. Film ini bercerita tentang kisah asmara unik antara monster amfibi (Doug Jones) dengan seorang wanita tunawicara bernama Elisa yang diperankan oleh Sally Hawkins yang bekerja di sebuah laboratorium milik pemerintah pada era 60an. Selain jalan ceritanya yang menarik, film ber-genre science fiction & fantasy sekaligus romance ini juga punya sinematografi yang bagus banget. Lighting di setiap adegannya pun pas sekali. Apalagi production design-nya, benar-benar menguatkan feel Amerika di era tahun 60-an banget, sih. Oh iya, satu lagi! Aktingnya Sally Hawkins di sini juga patut diacungi jempol, meskipun harus berkomunikasi dengan bahasa isyarat di sepanjang film.

Nisita

Diantara semua film yang masuk dalam nominasi, saya menjagokan film “Call Me by Your Name” yang disutradarai oleh Luca Guadagnino ini. Dengan menggunakan musim panas tahun 1983 di Italia, film ini bercerita tentang Elio Perlman (Timothee Chalamet) yang jatuh cinta dengan Oliver (Armie Hammer). Alur ceritanya memang cenderung lambat, tetapi tidak terasa membosankan karena adegan demi adegannya ditampilkan dengan sangat baik. Padahal, banyak adegan di mana para tokoh hanya mengobrol dan bersantai di pinggir kolam renang, tetapi tetap menyenangkan untuk ditonton! Masalah yang terjadi dalam film ini sebenarnya cukup kompleks. Namun, bisa dibawakan dengan ringan, menyenangkan, sekaligus membuat saya terbawa emosi. Rasanya semua elemen dalam film ini benar-benar saling melengkapi satu sama lain.

Devina

Sejujurnya, saya sudah cukup lama tidak terlalu mengikuti perkembangan film maupun ajang pemberian penghargaan film. Namun, saya sempat melihat daftar film yang masuk ke dalam nominasi Oscars 2018. Nah, dari daftar film tersebut, ada satu film yang menarik perhatian saya yaitu “The Post”. Saya rasa film ini memiliki kesempatan yang cukup besar untuk menang. Alasannya tentu bukan karena “The Post” bercerita mengenai media dan saya bekerja di media, ya hehehe. Melainkan karena nama-nama ‘besar’ yang terlibat di dalamnya serta pesan yang disampaikan. Siapa sih yang tidak mengenal Steven Spielberg, Tom Hanks, dan Meryl Streep? Selain itu, setting film ini yang mengambil latar tahun 1970 lengkap dengan penggunaan mesik tik juga membuat penontonnya terbawa ke dalam suasana bertahun-tahun silam. Yang paling saya suka adalah tokoh Katherine Graham yang diperankan oleh Meryl Streep. Sebagai perempuan pertama yang memimpin kantor penerbitan koran yang didominasi laki-laki, tentu karakter Katherine benar-benar menjadi inspirasi untuk banyak perempuan yang memperjuangkan gender-equality.

Baca juga: Dari yang Unik Hingga Bikin Ngakak, Ini 5 Fakta Seputar Film “Black Panther”

PREVIOUS ARTICLE

Jangan Buang-buang Waktu Anda untuk Berdebat dengan 5 Zodiak Paling Keras Kepala Berikut

NEXT ARTICLE

Review: YSL Tatouage Couture, Lip Stain High End yang Super Nyaman

RELATED ARTICLES

comments