ATUR ULANG PASSWORD

Atur ulang password

Lupa password Anda? Masukkan alamat email.

Guide

Bali Belly, Permasalahan Pencernaan yang Kerap Dialami oleh Banyak Turis di Bali

Menjadi destinasi wisata favorit hingga ke skala internasional membuat Bali kerap dipadati turis dari berbagai belahan negara. Bahkan, mungkin ada beberapa dari Anda yang memiliki teman atau kerabat di luar negeri dan tertarik untuk mengunjungi Bali, bukan? Walau menawarkan sejuta pesona, ada beberapa permasalahan kesehatan yang mungkin terjadi pada para turis yang pertama kali mengunjungi Bali, salah satunya dan yang paling sering terjadi adalah Bali belly. Ingin tahu apakah Bali belly itu? Simak penjelasannya di sini, ya!

Apa itu Bali belly?

Bali Belly

Bali belly adalah nama yang diberikan untuk permasalahan perut dan pencernaan yang kerap dialami oleh turis atau traveler saat mengunjungi Bali. Umumnya, Bali belly terjadi karena konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, dan biasanya disebabkan oleh bakteri. Bakteri yang biasanya menjadi dalang terjadinya Bali belly adalah escherichia coli alias e. coli, shigella s, dan salmonella. Beberapa jenis virus mungkin juga menimbulkan gejala yang serupa dengan Bali belly akibat bakteri.

Gejala Bali belly biasanya mulai timbul dalam kurun waktu 1 – 10 hari, dan gejalanya meliputi:

  • Perut kembung, nyeri perut, dan nyeri dada
  • Diare
  • Muntah-muntah
  • Pusing
  • Berkeringat
  • Rasa lelah
  • Demam atau tubuh bersuhu tinggi

Baca juga: Bisa Jadi Indikator Penyakit Serius, Berikut Berbagai Jenis Sakit Perut yang Tidak Boleh Diabaikan

Kenapa Bali belly dapat terjadi?

Bali Belly

Saat berkunjung ke suatu tempat baru, mencoba makanan lokal menjadi salah satu aktivitas yang kerap dilakukan banyak orang, tak terkecuali turis asing yang berlibur ke Bali. Karena jarak yang dekat dan frekuensi berkunjung yang begitu sering, turis Australia bahkan kerap merasa familiar dengan Bali dan tak ragu untuk menyantap segala kuliner lokal. Padahal, Anda sebagai masyarakat Indonesia saja mungkin masih sering berhati-hati memilih tempat makan dan makanan, bukan?

Ditambah lagi, di Indonesia (termasuk Bali), suplai air tidak tergolong aman untuk dikonsumsi langsung, tidak seperti di Australia maupun Amerika. Indonesia juga memiliki iklim tropis dan lembap, sehingga membuat bakteri pada makanan dapat berkembang jauh lebih cepat. Kedua faktor ini ditambah dengan faktor kebersihan saat pengolahan, penyimpanan, dan penyajian makanan yang mungkin tak selalu optimal membuat risiko penyebaran bakteri semakin besar.

Mencegah dan menangani Bali belly

Bali Belly

Nah, apabila Anda memiliki kenalan turis luar yang baru pertama kali akan mengunjungi Bali, berikut beberapa langkah yang dapat mereka lakukan untuk mengurangi risiko terjadinya Bali belly, di antaranya adalah:

  • Hanya konsumsi air minum botolan, terutama untuk air putih
  • Selalu cuci tangan atau gunakan hand sanitizer sebelum makan
  • Pesan minuman tanpa es (untuk menghindari risiko es dibuat menggunakan air yang kurang steril)
  • Hindari mencuci buah atau sayuran menggunakan air keran
  • Perhatikan konsumsi makanan, sebaiknya pilihlah makanan yang segar atau baru dimasak, alih-alih makanan yang sudah disajikan sejak lama
  • Hindari mengonsumsi daging yang kurang matang
  • Perhatikan juga alat makan yang akan digunakan, apabila peralatan makan berada dalam kondisi basah atau kurang bersih, sebaiknya hindari menggunakan peralatan makan tersebut

Secara umum, pastikan Anda memilih makanan dengan cermat dan berhati-hati, apabila suatu tempat makanan tampak kurang bersih, walaupun harganya sangat murah, lebih baik hindari makan di tempat tersebut. Selain itu, apabila Anda memiliki riwayat masalah pencernaan atau berencana traveling ke Bali dengan anak-anak, mungkin Anda bisa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk mendapatkan suplemen dan vitamin demi mencegah masuknya bakteri dalam tubuh.

Bali belly berpotensi menular, karena bakteri dan virus dapat berpindah dari orang ke orang melalui makanan dan air. Itulah kenapa apabila Anda atau rekan perjalanan mengalami Bali belly, sebaiknya selalu jaga kebersihan dengan mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah untuk mencegah penularan. Bali belly bisa berlangsung selama beberapa jam, satu hari, hingga 4-5 hari. Apabila Anda atau rekan perjalanan Anda terlanjur mengalaminya, Anda dapat segera mengunjungi apotek atau dokter terdekat untuk mendapatkan obat.

Baca juga: Sering Traveling Ala Backpacker? Perhatikan 5 Tips Ini Supaya Nggak Gampang Sakit Saat Liburan

PREVIOUS ARTICLE

5 Ide Kencan dari Drama Korea yang Dapat Mempererat Hubungan Anda dan Pasangan

NEXT ARTICLE

Mulai Tidak Nyaman dengan Sahabat yang Posesif? Begini Cara Menghadapinya

RELATED ARTICLES

Content Writer at BeautyJournal.

COMMENTS

6comments


  • Farisa Pangesti3 weeks ago

    Aku nih yg sering sakit

  • Vetty Titaniya4 weeks ago

    Hallo kak, salam kenal.. follback ya kak..thank you :)

  • Hiky Hiky4 weeks ago

    Hallo kak.. bagi foll back nya kak.... :smile::smile:

  • Nur Amalia Pratiwi4 weeks ago

    birthday_sociolla_turn_four

  • Kartika SF4 weeks ago

    happy

  • Andrean4 weeks ago

    love_eyes