Beauty

Ketika Kecintaan dengan Lipstik Berubah Menjadi Sebuah Women Empowerment bagi Rissa Lippielust

Jika Anda penggila lipstik, mungkin nama akun instagram @lippielust sudah tidak asing lagi buat Anda. Rissa Stellar adalah seorang beauty blogger, content creator dan lipstik swatcher yang menyuguhkan konten review lipstik dengan mendalam dan objektif. Jika Anda rutin membaca post di blog lippielust miliknya, pasti Anda akan merasakan perbedaannya. Ada sebuah konsistensi yang menunjukkan identitasnya sebagai content creator yang telah mengecap proses. Ia menjerat hati para follower-nya bukan hanya mengandalkan visual foto atau swatch yang bagus saja. Dalam setiap review-nya, ada berbagai macam informasi dan pengetahuan tentang lipstik mulai dari brand knowledge hingga ingredients yang berguna bagi pembacanya untuk menentukan pemilihan lipstik. 

Saat ditemui untuk wawancara ’50 shades of Beauty’, ia banyak bercerita soal perjalanan cinta, ambisi, serta filosofi dan perspektifnya, baik dalam karir maupun kehidupannya. Di balik foto-foto swatch lipstik yang well presented, ternyata blogger yang memiliki filosofi bahwa lipstik adalah kehidupan sekaligus terapi baginya ini memiliki banyak kisah yang bermakna dari sekadar memulas berbagai macam warna cantik pada bibir. Simak penuturannya bagaimana ia melalui trauma dari pengalaman kekerasan abusif dan mewarnai women empowerment melalui kegemarannya terhadap lipstik bersama Beauty Journal yuk.

All About Lipstick the World of Beauty

Bagaimana sih awal mula kecintaannya pada lipstik?

Sumber gambar: @lippielust

Aku dulu jarang banget makeup, pakai bedak aja nggak pernah. Waktu kuliah baru mulai pake eyeliner, bukan karena pengen centil ya hahaha, tapi mungkin lebih ke arah ingin makeover dan bosen dengan penampilan yang gitu-gitu aja. Waktu itu sudah mulai beli-beli lipstik dan mulai ‘menjarah’ koleksi ibu juga karena suka lihat warna-warnanya. Dari kecil sebenarnya aku udah selalu dicekoki dengan gambar dan berbagai macam warna. Tuntutan pekerjaan saat menjadi jurnalis di majalah GoGirl! juga ikut andil bikin aku sering bereksperimen dengan lipstik supaya nggak terlihat lelah. Akhirnya aku mulai rajin mengoleksi berbagai macam lipstik dengan berbagai macam warna mulai dari yang murah hingga yang mahal.

Faktor apa saja yang menjadi pertimbangan beli lipstik?

Aku sebenarnya picky banget kalau menyangkut urusan lipstik, karena harus nyaman, not only look good but also feel good. Personally, aku lebih suka memilih lipstik yang nggak bikin kering dan tidak fully transfer proof atau super matte untuk dipakai sehari-hari.

“Menurutku, lipstik itu lebih artistik. Makanya aku sebenernya lebih suka beli lipstik biasa ketimbang liquid lipstik”.

Namun, kalau untuk konten yang muncul di media sosial atau blog, aku memang berusaha menawarkan yang lengkap, beberapa di antaranya aku review kalau memang lagi ngetren, terkadang ada juga permintaan dari readers, atau endorsement dari brand yang bekerja sama.

Akhir-akhir ini bermunculan produk lipstik lokal dan juga beberapa blogger yang menelurkan produk makeup atau lipstik. Lippielust kapan?

Haha, awalnya aku memang sempat diajak kolaborasi untuk bikin lipstik oleh salah satu brand, tapi jujur aku tolak karena aku memang masih mau fokus sebagai content creator dan memperkaya konten review daripada menjadi seorang brand owner.

Namun, akhirnya aku sempat berpikir. Karena filosofiku bahwa memakai lisptik itu harus look good and feel good, maka waktu itu justru lebih tertarik untuk meng-highlight produk perawatan bibir karena memang belum banyak beredar di pasaran. Setelah pendekatan sama salah satu brand yang memang aku tahu kualitasnya cukup bagus, akhirnya tahun ini aku berkolaborasi dan meluncurkan Lip Remedies, produk perawatan bibir pertama di Indonesia yang mengusung perawatan satu paket untuk bibir, yaitu lip remover, lip balm, lip scrub. Dan ternyata produk ini disambut baik bangettt! 

Sumber Gambar: Lippielust.com

Wow, jadi penasaran dengan Lip Remedies yaaa. Beauty Journal harus cobain juga nih hahaha. Tapi tadi Rissa bilang sempat menolak tawaran dari brand. Enggak takut nanti kehilangan kesempatan atau job? 

Haha, soalnya aku memang punya prinsip,

“Sebagai content creator harus punya integritas, jangan sampe punya mindset ‘yang penting aku dibayar’ saja”.

Biasanya aku tidak begitu saja menerima semua tawaran yang datang. Ada kalanya harus berani say no. Saat ada brand yang mengajak bekerja sama, biasanya aku cari tahu dulu. Selektif itu perlu agar konten dan ciri khas sebagai content creator tetap terjaga. Biasanya aku juga selalu berdiskusi dengan brand yang menawarkan kerjasama di awal agar konten bisa diadaptasikan sesuai dengan gaya komunikasi Lippielust, namun dengan tetap memperhatikan key point yang diberikan oleh brand. Dengan begini, maksud brand tetap tersampaikan dan followers pun lebih ada engagement. Karena followers sekarang juga sudah semakin kritis. Mereka juga selektif dan mudah kabur jika konten yang disajikan tidak lagi relevan atau ‘katalog’ banget.

Nah, karena aku content minded banget dan lebih pengen memberi influence lewat konten tulisan, bukan hanya dari fisik atau bibir aja, makanya aku nggak suka dibilang selebgram, dan lebih suka disebut content creator. Buat aku, objektif itu penting. Aku ingin fokus deliver content as honest as possible, tapi nggak merugikan brand yang mengajak bekerja sama.

Wah, pernah bekerja sama yang nggak ‘happy ending’ dengan brand?

Tentu pernah. Tapi aku selalu kembali pada misi aku saat pertama kali menciptakan Lippielust ini bahwa aku ingin membantu wanita lain supaya ‘melek lipstik’ dan mudah menentukan pilihan. Jadi aku selalu mengusahakan semua review ditulis secara objektif, ada pro dan kontra atau plus minus-nya. Yang penting, aku selalu mengkomunikasikan itu dengan baik dalam tulisan review. Risikonya ada sih, brand yang kapok dan tidak mau bekerja sama lagi. Tetapi ada juga yang malah rutin bekerjasama karena review lengkap dari aku bisa menjadi insight buat brand mengembangkan produknya. Menurutku bisnis nggak seharusnya dibawa personal.

Aku nggak bilang kalo reviewku perfect ya, masih harus belajar sampai sekarang dan tetap kreatif, tetapi aku selalu berusaha menyajikan konten yang lengkap dan cari tahu hingga soal ingredients, pengetahuan tentang brand sehingga bisa menjadi ‘jembatan’ dan lebih mengedukasi pembaca sekaligus menyampaikan feedback juga bagi brand sehingga produk berikutnya bisa lebih bagus lagi.

Apa pandangan Rissa tentang komunitas beauty influencer di Indonesia?

Saat melihat komunitas semestinya dekat dengan women empowerment. Begitu juga dengan komunitas beauty influencer yang idealnya saling support. Sayangnya, menurutku komunitas beauty influencer di Indonesia gap-nya masih besar dan masih terkotak-kotak atau berkelompok. Sebagian besar yang ter-highlight juga masih di seputar Jakarta, padahal banyak beauty influencer juga dari daerah lain yang kontennya bagus. Personally, kalau aku suka mingle dengan siapapun. Tapi di manapun pasti tetap aja ada persaingan yang kurang sehat, manis di depan tetapi nge-judge di belakang, hingga bullying online. Aku pernah mengalami hal serupa tahun 2015. I don’t take bully as an excuse. Sesama wanita apalagi yang tergabung dalam komunitas seharusnya tak perlu saling menjatuhkan dan harus saling support. Kompetitif boleh saja tapi caranya harus sehat.

Dunia Media Sosial

Punya 81,7 k follower di Instagram dengan engagement yang aktif exhausting nggak sih?

Saat pertama kali membuat akun Instagram Lippielust sebenarnya aku nggak ada ekspektasi apa-apa. Aku sebenarnya juga introvert dan bukan tipe orang yang mau dikenal orang banyak. Tapi pada waktu itu, Lippielust itu terapi buat aku karena suka warna warni lipstik, swatch dan sharing untuk membantu dan menginspirasi orang lain.

Karena pada waktu itu belum banyak blogger atau influencer yang nge-swatch lipstik, follower aku justru lebih banyak berasal dari luar negeri. Beberapa post Instagram Lippielust juga ada yang di-regram langsung oleh brand internasional seperti Stila, Girlactic, dan Tarte. Namun, punya banyak follower dari luar juga terkadang ada risikonya. Mungkin karena mereka cenderung blak-blakan, jadi ada saja yang judgemental dan komen soal fisik. Loh, kok pake behel? Loh, kok ada rambut halusnya? Kok gendut? Dan masih ada komen soal fisik lainnya yang kalau dipikirin kadang jadi kesal sendiri. Tapi ya, yang suportif dan merasa terbantu dengan konten media sosialku jauh lebih banyak jadi aku cuekin aja.

Sekarang saja perubahannya cukup besar dalam waktu beberapa tahun. Follower juga nambahnya semakin cepet. Kalau yang udah follow dari jaman 1000 pasti tau Lippielust kaya apa. Kadang ada kekhawatiran banyak orang yang baru mengenal Lippielust setengah jalan dan pasti akan ada aja yang judgemental. Tapi ya dijalani aja dan fokus dengan yang suportif dan memang merasa connect dengan konten yang aku tulis. 

Sisi baik dan buruk media sosial?

Sosial media itu seperti dua sisi mata uang. Kadang bagus karena semua informasi bisa didapatkan dengan mudah, berinteraksi pun mudah. Namun, karena no boundaries, semua orang bisa komen dengan mudah dan cenderung judgemental. Kalau tidak pintar-pintar memfilter dan menyikapi konten yang beredar bisa stress sendiri. 

Along the way, aku sudah menyadari bahwa apapun yang kita lakukan, pasti akan ada reaksi positif dan negatif, meski kalau di Lippielust jarang banget ada yang negatif. Komen negatif biasanya yang ngarah ke fisik, seperti yang aku bilang tadi, dan kalau salah momen jadi bikin aku insecure ato bahkan sukses bikin aku nangis. Bukan karena cengeng tapi aku pernah berada di situasi yang tidak mengenakkan dan butuh proses lama untuk recovery.

Aku juga sering sharing dan bertemu dengan para lipstik swatcher lainnya, dan ternyata banyak yang mengalami kejadian serupa, dibully secara online karena memiliki kulit sawo matang atau sudah berusia tidak muda, atau mungkin hanya gara-gara alisnya tidak dicukur. Bahkan kadang ada yang protes kok warna lipstiknya beda? Padahal, misalnya kalau kulit sawo matang justru bisa membantu orang lain yang juga berkulit sawo matang supaya lebih get the idea tentang warna lipstiknya juga.

Buat aku orang-orang yang berani mem-bully secara online itu sebuah act of cowardness.

Kalau aku biasanya selalu inget masih banyak orang yang dapat banyak manfaat dari Lippielust, aku bisa bantu mereka supaya nggak galau pilih lipstik. Buat aku ada kepuasan dan jadi terapi tersendiri saat lihat warna-warninya yang bagus. Aku juga aktif encourage follower agar jangan saling bully, dont give up dream. Itupun tetap ada aja yang bilang fake, hahaha [tertawa lepas].

Cara bijak menggunakan akun media sosial menurut Rissa?

Harus bisa bagi waktu.

Social media is not your real life”.

Social media in a good way is very convenient. Tapi kalau nggak pintar bagi waktu bisa bikin kecanduan, terjebak, atau terlalu mendewakan media sosial. Semua penilaian hanya didasarkan apa yang dilihat dari media sosial saja. Ujung-ujungnya, it takes you away from the real communication process. Kalau kasusnya udah akut kadang ada yang sulit bedain antara yang nyata sama yang maya. Waktunya habis buat urus sosial media tapi real life-nya malah kurang terurus.

Life, Love and Ambition

Nah, ngobrol-ngobrol soal real life, sudah banyak dong achievement yang diperoleh, mulai dari di-regram oleh brand internasional, di-feature oleh Buzzfeed, hingga kolaborasi meluncurkan produk perawatan bibir. Tapi achievement apa yang selama ini paling berarti buat Rissa?

Wah, sebenarnya hal-hal yang seperti itu aku nggak hitung sebagai achievement [tertawa]. Tapi salah satu yang aku anggap achievement berarti itu adalah ketika aku menjadi salah satu juru kampanye #mulaibicara untuk membantu menggalang donasi bagi wanita yang mengalami kekerasan. Waktu itu seharusnya target donasi yang terkumpul adalah 10 juta rupiah, namun aku berhasil mengumpulkan hingga 25 juta rupiah. Senang rasanya bisa membantu wanita lain yang juga menjadi korban kekerasan.

Sepertinya ada arti khusus keterlibatan Rissa di kampanye ini. Boleh cerita lebih lanjut kak?

Dari 15 kasus kekerasan seksual, hanya 3 yang diakui hukum. Alasannya, dianggap 'kurang berat', atau korban dianggap bersalah (victim blaming) karena stereotip-stereotip kaku bahwa perempuan 'juga' salah. Sampai di kasus terberat sekalipun, kasus pemerkosaan dipandang sebelah mata oleh hukum. Benarkah korban diperkosa? Apakah korban menikmatinya? Lalu 'kekerasan seksual' pun menjadi bias. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa korban kekerasan seksual enggan melapor. Suara mereka tertahan karena takut disalahkan. Masalah lainnya? Biaya bantuan hukum yang mahal! . Tadi malam aku hadir ditengah perempuan-perempuan hebat yang memperjuangkan hak-hak korban kekerasan seksual yang tergabung dalam Change.org, Indo Relawan, dan Pundi Perempuan sebagai rangkaian kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Kamupun bisa ikut andil agar semakin banyak korban kekerasan bisa terbantu secara hukum. Caranya cukup klik link berikut https://kitabisa.com/lippielustthenewme (atau klik link di bio). Di sana ada penjelasan lanjut tentang kampanye & panduan bagaimana cara jika ingin ikut bergabung berdonasi. . Donasi dibuka sampai 22 Desember 2016. Yuk gabung sekarang! . #MulaiBicara #thenewme #16haktp #WomensEmpowerment #JanganDiam #gerakbersama #lippielustmovement

A post shared by 𝕣𝕚𝕤𝕤𝕒 * 𝕝𝕚𝕡𝕡𝕚𝕖𝕝𝕦𝕤𝕥.𝕔𝕠𝕞 (@lippielust) on

Sebenarnya tidak pernah mudah buat sharing soal hal ini. I was once being in abusive relatioship. Meskipun aku tipikal orang yang punya kemauan kuat, kalau mengejar apa yang aku mau, aku bisa dapetin, terutama soal prestasi akademis ya, namun kalau sudah berurusan dengan orang jadi mentok. Aku nggak bisa mengubah sifat seseorang jadi lebih baik, apalagi kalau orang itu memiliki friksi denganku. Makanya aku suka stress karena kadang aku punya high expectation kalau orang bisa berubah jadi lebih baik karena bantuanku.

Saat kuliah, aku punya pacar. Awal perkenalan hingga 2 tahun berikutnya belum ada tanda-tanda kalau dia memiliki kecenderungan perilaku abusif. Namun, ada suatu momen di mana ia mulai memukul, dan ini terjadi bukan sekali dua kali saja. Selain abusif secara fisik, ia juga abusif secara verbal. Saat berada di hubungan yang abusif, aku jadi ngerasa nggak berguna, jelek, bodoh, I feel like sh*t all the time dan tidak menghargai diri sendiri. Feel like death was so close to me. Hingga akhirnya suatu ketika setelah berkali-kali kejadian aku pulang ke rumah orang tua dalam keadaan rahang remuk dan lebam karena selama ini aku memang menyimpan semuanya sendiri dan keluarga tidak tahu.

Akhirnya aku sadar dan merasa I had enough dan mengambil keputusan untuk cut off semua ini. Prosesnya tidak langsung life changing. Aku juga pernah ke psikolog untuk membantu mengatasi kondisi mental breakdown pasca kejadian itu. Butuh proses 2 tahun untuk pelan-pelan recover dari trauma, memperbaiki persepsi atas diri sendiri dan kembali menjalani hidup.

Kenyataannya tidak pernah mudah bagi siapa saja untuk mengalami kekerasan atau perilaku abusif, apalagi anggapan yang memojokkan wanita di situasi seperti ini akan selalu saja ada. Saat aku mulai berani sharing di kampanye #mulaibicara, ada media yang memberitakan dengan cara yang kurang baik sehingga aku terlihat seperti korban yangg cari perhatian. Kecewa rasanya, namun aku tahu kalau misiku lebih besar dari itu. Aku ingin berguna bagi yang lain, bisa menolong wanita lain, dan menyampaikan pesan bahwa every woman is beautiful no matter what other people say.

Sempat mengalami trauma hebat, setelah itu bagaimana pandangan Rissa soal lelaki dan relationship?

Hmm, setelah itu sempat komitmen dan punya trust issue. Pacaran lagi iya tapi nggak pernah lama, karena rasa sayangnya udah habis saat pernah diperlakukan seperti itu. Pernah mikir juga nggak akan bisa nikah. Saking takutnya bahkan pernah mikir apa jadi lesbi aja ya? Tapi Alhamdulillah akhirnya ketemu pria yang tepat, yang sekarang jadi suamiku. Dari awal udah cerita kalo aku nggak perfect, broken vase, cuma minta jagain supaya nggak pecah lagi. 4,5 tahun pacaran, dia nggak pernah ngomong kasar atau mukul sekalipun.

Tapi saat mulai ada obrolan nikah, aku juga sempat merasa di persimpangan. Ada banyak kekhawatiran. Aku sebenarnya membanggakan my messy life, bangun siang atau melakukan apa yang aku mau kalau lagi mood. Gambaran menikah itu ada komitmen tertentu dan memasukkan orang lain dalam hidup aku, ada yang harus diurusin, harus ada beberapa penyesuaian. Belum lagi pikiran kalau seumur hidup bakal sama dia gimana? Ada masa-masa pengen lari, tapi ternyata setelah dihadapi dan dijalani, itu semua mengalir. Dia temen hidup terbaik dan respek banget sama dia. Hingga sekarang kalau aku masih beberapa kali terbangun malam dan menangis karena masih trauma, dia amat sangat mengerti.

Awww [terharu]. Boleh dong share seperti apa sih pria yang sudah berhasil mengademkan hidup kak Rissa hahaha. Pasti pada banyak yang penasaran!

Haha, biasanya aku memang jarang ya upload foto personal. Tapi boleh nih buat Beauty Journal aku share foto berdua suamiku ya.

3 hal paling bikin gemes atau stress?

Deadline udah pasti dong yaaa? Karena berhubungan dengan kerjaan dan memang tanggung jawab.

Yang kedua, having argument. Aku tipe orang yang nggak suka dan menjauhi konflik.

Terus nggak punya waktu luang itu juga bikin aku stress. Ortu juga kadang udah paham, pasti udah susah cari waktu buat ajak Rissa hahaha. Sebisa mungkin masih ingin bagi waktu kerjaan sama kehidupan pribadi, yang sayangnya sampe saat ini masih belum bisa. 

Jujur, skill time management aku masih kurang, makanya sekarang aku ada manager buat bantuin atur hahahaha, supaya bisa punya waktu lebih buat keluarga.

3 hal yang calm you down?

Suami! He is my biggest supporter dari awal, jauh sebelum Lippielust ada. 

Selain itu, liburan. Mau ke manapun, perkotaan atau pantai, pokoknya kalau liburan paling enak nggak ngapa-ngapain, tidur, ngelamun berkhayal gitu haha.

Satu lagi, lipstik!

Prioritas dan cita-cita Lippielust mendatang?

Prioritas sudah pasti keluarga. Kalau keluarga atau suami bilang “Udah ya, stop ini sekarang juga”, in a serious way, aku bakal stop langsung.

Kalau cita-cita jaman SMP pengen menulis buku yang menginspirasi, pengen diingat kebaikannya selagi hidup di dunia. Lalu aku juga kepikiran buat menciptakan komunitas swatcher, sekaligus membesarkan Lippielust sebagai sebuah brand, seperti Temptalia. Satu lagi yang paling penting, pensiun muda umur 35 hahaha. Kalau cita-cita yang satu ini udah satu paket sama suamiku. Ingin seperti Trinity, jalan kemana saja tapi ya bekerja. Pensiun muda juga bukan berarti tidak melakukan apa-apa sama sekali, namun memiliki passive income supaya bisa menikmati hidup lebih banyak. Kalau nanti punya anak, inginnya anakku juga tahu bahwa dunia itu luas bukan cuma rumah saja.

Take and give in life?

I always wanna be a teacher. Mungkin yang aku jalani sekarang memang berbeda, tetapi kalau dipikir lagi sebenarnya apa yang aku lakukan sekarang memiliki tujuan yang sama. Aku tetap bisa memberi edukasi lewat tulisan, dan berperan dalam women empowerment dengan sharing lewat konten edukatif dan objektif .

PREVIOUS ARTICLE

Yoona “SNSD” Terpilih Menjadi Most Beautiful Women in K-Pop 2017. Anda Setuju?

NEXT ARTICLE

3 Rekomendasi Cleansing Foam untuk Kulit Berminyak

RELATED ARTICLES

comments