ATUR ULANG PASSWORD

Atur ulang password

Lupa password Anda? Masukkan alamat email.

Beauty

Mendobrak Stereotip, Stefan “Skinchemically” Beri Edukasi Bahwa Pria Juga Perlu Merawat Kulit

Meski masih didominasi oleh wanita, ranah industri kecantikan mengenal beberapa sosok pria fenomenal yang mampu menciptakan dan menyetir tren karena besarnya pengaruh mereka, seperti François Nars dan mendiang Brandon Truaxe. Fenomena ini menjelaskan bahwa terlepas dari identitas gender-nya, setiap orang memiliki hak untuk berkecimpung di industri manapun selama kualifikasi untuk bekerja di bidang tersebut terpenuhi. Inilah mengapa Stefan Paulus atau yang dikenal lewat akun Instagram @skinchemically menjadi begitu populer sebagai salah satu skin care blogger. Saat pria dengan latar belakang sains berbicara tentang skin care, tentu saja perbincangan yang muncul terasa lebih menyegarkan. Seluruh obrolan tentang edukasi skin care yang dilakukan oleh Stefan sudah terangkum dalam wawancara yang saya lakukan dengannya beberapa waktu lalu. Simak lebih lengkapnya di bawah, ya!

Tidak banyak blogger pria yang terjun di industri kecantikan. Kalau boleh tahu, bagaimana sejarah kemunculan akun @skinchemically dan sejak kapan Stefan tertarik dengan dunia skin care?

Ketertarikanku pada skin care sudah muncul sejak aku kecil. Meskipun saat itu aku hanya mengenal face wash milik kakak yang sering aku pakai, tapi aku selalu ingin punya kulit yang sehat seperti yang pernah aku lihat dari iklan SK-II saat kecil. Kemudian, ketertarikan itu berkembang saat aku harus melewati masa-masa wajah berjerawat, fase itu membuatku lebih rajin lagi untuk mencari tau dan berusaha menyembuhkan wajahku yang berjerawat.

Nah, selama aku menjalani proses untuk mencapai kondisi yang aku inginkan, aku sering share tentang apa yang aku tahu soal skin care di Instagram. Dari situ, banyak yang bilang kalau yang aku sampaikan itu bagus kalau dibagikan. Yaudah, di awal 2018 aku buat Instagram khusus untuk share ilmu yang aku punya, yaitu @skinchemically ini.

Skinchemically

Dalam menulis artikel atau postingan di Instagram, dari mana biasanya Stefan menemukan informasi?

Untuk awal pencarian info yang sering dibicarakan oleh warganet, biasanya aku menggunakan internet dan media sosial. Namun, ini hanya terbatas pada mencari tahu tren skin care yang sedang hangat diperbincangkan oleh warganet. Setelah mengetahui topiknya apa, biasanya aku akan melakukan riset dengan membaca jurnal-jurnal ilmiah yang dapat aku akses.

Membaca jurnal-jurnal ilmiah ini merupakan metode verifikasi dari informasi yang aku baca dan ketahui dari media lain. Selain itu, aku juga lihat dari akun Instagram @kindofstephen karena dia profesinya chemist. Jadi untuk mengeluarkan review atau artikel itu memang butuh proses yang panjang karena proses verifikasi dan validasi itu.

Sebagai skin care enthusiast, apa saja sih prinsip utama Stefan dalam merawat dan menjaga kesehatan kulit?

Tentunya seperti yang pernah aku bilang di Instagram, aku punya prinsip tri dharma skin care. Tahapan skin care itu harus pakai cleanser, moisturizer, dan sunscreen. Yang pertama memang harus membersihkan kulit dari polusi, sel-sel kulit mati yang harusnya lepas, dan minyak. Itu semua memang harus dibersihkan tiap hari, baik untuk wanita maupun pria. Terutama buat pria yang suka futsal, olahraga, atau gym. Bahkan, sekadar aktivitas berkendara pun butuh membersihkan wajah. Kedua, moisturizer itu penting untuk semua jenis kulit karena air adalah kunci paling penting agar kulit tetap sehat. Semua proses metabolisme butuh air, karena itu kalau kulit kekurangan air justru membuat kulit flaking, jerawatan, hingga bruntusan. Yang ketiga, karena kita hidup di negara tropis yang dalam 365 hari selalu ada sinar matahari, maka sunscreen wajib untuk wanita maupun pria. Menurutku, tiga tahapan itu prinsip paling penting untuk menjaga kulit untuk semua orang.

Baca juga: Perjalanan Menemukan Passion dan Perjuangan di Industri Bisnis dari Mata Dinar Amanda, Sosok di Balik Rollover Reaction

Tadi disebutkan kalau wanita maupun pria penting memakai skin care, namun stigma buruk tentang pria yang menggunakan skin care masih saja melekat kuat. Pesan apa yang ingin Stefan sampaikan pada para pria yang masih ragu?

Masalah pria menggunakan skin care memang masih menjadi sesuatu yang kompleks. Kalau misalkan kondisi kulitnya baik-baik saja sih tidak apa-apa, ya. Namun, lain soal kalau kulit dengan kondisi tertentu yang butuh dirawat. Nah, permasalahan berikutnya yang akan muncul kalau pria melakukan perawatan adalah masyarakat yang akan langsung nge-judge. Jadi, pilihannya terbatas antara pria yang harus lebih berani memakai skin care atau masyarakat diedukasi bahwa pria menggunakan skin care itu wajar. Menurutku, tidak bisa menjaga kebersihan diri sendiri itu jorok, sedangkan menggunakan skin care itu termasuk cara kita menjaga kebersihan dan kesehatan kulit. So, menurutku pria pakai skin care itu nggak apa-apa banget!

Tak hanya pada pria yang menggunakan skin care, tapi lingkungan sekitar juga kerap melontarkan komentar pedas saat melihat kondisi seseorang yang sedang berjerawat. Sebagai yang pernah punya pengalaman dengan kulit berjerawat, bagaimana cara Stefan mengabaikan komentar-komentar tersebut?

Komentar seperti itu memang buat tidak enak di hati. Dan secara teorim memang mudah untuk bilang ‘masuk telinga kiri keluar telinga kanan’, padahal secara teori tidak seperti itu. Satu-satunya cara yang memotivasi saat proses menyembuhkan jerawat atau melakukan skin care adalah dengan rajin mengecek perkembangan kulit. Komentar orang tidak turut andil di kondisi kulit kita. Progress yang terlihat adalah hasil dari kerja keras kita. Mereka hanya bisa berkomentar, namun mereka tidak mendanai kebutuhan skin care kita. Padahal, ketika kita merawat wajah, kita jugalah yang merasakan manfaatnya.

Jadi kalau aku sih tidak suka memikirkannya terlalu lama. Mungkin merawat wajah butuh waktu lama, tapi kita akan merasakan manfaatnya saat kondisi kulit kita membaik. Jadi, akan lebih baik jika kita benar-benar fokus pada diri sendiri. Kalau merawat wajah memberi efek positif artinya bagus. Orang lain tidak akan pernah tahu perjuangan kita. Omongan orang memang tidak enak jika didengar, tapi jika kita tetap gigih dan menunjukkan perkembangan, pada akhirnya mereka pasti akan diam.

Skinchemically

Kalau boleh memilih untuk terlibat dalam beauty campaign oleh brand skin care atau kosmetik manapun, Stefan mau pilih brand mana?

Salah satu brand lokal yang menurutku cukup menarik untuk diikuti beauty campaign-nya adalah Votre Peau. Kalau untuk brand internasional aku lebih tertarik dengan L’Oreal. Sebagai perusahaan besar dengan banyak sub-brand, mereka punya kualitas research and development yang sangat baik. Mereka punya banyak produk dengan bahan-bahan yang menurutku sangat menarik. Jadi, kalau boleh terlibat dengan beauty campaign untuk brand manapun, aku akan memilih L’Oreal dan Votre Peau.

Baca juga: Mulai dari Produk Favorit Hingga Pendapatnya yang Tak Percaya Soal Purging, Intip Rahasia Kulit Glowing Putricaya di Sini!

Lalu, apa rencana Stefan dalam beberapa tahun ke depan? Apa ada keinginan untuk fokus menjadi skin care influencer?

Untuk rencana di 2019 dan ke depannya, aku ingin bisa lebih aktif bersuara dan membagikan ilmu yang aku tahu ke masyarakat, terutama di sektor luring. Selain aktif di Instagram, aku rasa mencoba menjangkau ke teman-teman yang suka skin care namun jarang menggunakan media sosial itu perlu. Aku juga menyukai dunia public speaking, jadi jika ke depannya ada kesempatan untuk aku mengisi workshop, aku akan dengan senang hati membantu. Kalau kemungkinan untuk menjadi skin care influencer sepenuhnya tentu ada tapi bukan sebagai skin care influencer. Aku lebih tertarik untuk berkecimpung di dunia research and development untuk skin care.

SkinchemicallySelain untuk di aspek karir, apa saja rencana Stefan untuk @skinchemically kedepannya?

Sejak awal memang akun itu menjadi wadahku berbagi informasi seputar dunia skin care, namun makin kesini aku juga membagikan hal-hal random seperti membahas film. Dan salah satu genre yang paling aku suka itu psychological horror, seperti Hereditary. Kemarin aku sempat mencoba untuk punya kanal Youtube, namun dalam perjalanannya aku merasa proses pembuatan video untuk diunggah ke Youtube memakan banyak waktu dan cukup melelahkan. Yang membuat lelah karena aku punya pekerjaan utama lain jadi akan memakan banyak waktu lama jika aku ingin mengunggah video di Youtube. Jadi untuk sementara ini aku masih menggunakan platform Instagram dan blog.

[sumber foto dalam artikel ini]

PREVIOUS ARTICLE

Hana Lee, Youtuber Korea yang Berhasil Mengatasi Jerawat di Wajahnya

NEXT ARTICLE

Lewat Madame Gie, Gisella Anastasia Buktikan Bahwa Cantik Itu Nggak Perlu Mahal

RELATED ARTICLES

A future corgi and shibe Momma. A patata in a human form.

comments