ATUR ULANG PASSWORD

Atur ulang password

Lupa password Anda? Masukkan alamat email.

Beauty

Keteguhan Komitmen Happy Salma

Bagi pecinta seni, nama Happy Salma pasti sudah tak asing lagi didengar. Coba lihat saja aksinya di beberapa film seperti Gie, 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, Sang Penari, dan masih banyak lagi.  Saat berkunjung ke Bali beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan bertemu dengannya yang sudah menetap di Bali sejak menikah pada tahun 2010 yang lalu.

Kalau mengintip akun Instagram-nya, Anda bisa melihat beberapa bagian yang diungkap Happy Salma pada publik. Mulai dari lucunya si mungil Kinan, bisnis perhiasan, hingga opera Carmen yang baru saja dilakoninya. Berbicara tentang aksi di atas panggung, Happy Salma yang sudah sering berdiri di hadapan banyak orang ternyata mengaku masih merasakan grogi sebelum pertunjukkan dimulai.

“Pasti dong ada rasa nervous, apalagi di Opera Carmen itu jujur saja saya nervous sekali. Saya pertama kali terjun dengan penyanyi-penyanyi Opera yang disiplinnya tingkat tinggi. Saya tidak hafal dengan musik opera. Pakem-pakem musiknya tidak bisa improvisasi. Sudah ada buku dengan not-not balok yang harus diikuti. Ketika digabungkan dengan monolog atau narasi, saya harus beradaptasi dengan itu. Perlu waktu berminggu-minggu untuk saya menghafal ritme musik, bar keberapa saya harus masuk. Ketika mulai ya shaking juga dan deg-degan. Apalagi membuka acara, ada 150 pemain lain yang juga tergantung pada saya. Kalau sampai saya salah menyebut nama pemain, ceritanya bisa beda. Tapi rasa deg-degan menurut saya perlu dipelihara supaya lebih mawas diri dan tidak terlalu percaya diri, dengan begitu pasti ada upaya untuk terus memberi yang terbaik di atas panggung.”

Walau tidak sesering dulu untuk main film atau pentas di atas panggung, bukan berarti Happy Salma ingin pensiun dari dunia seni. “Kalau dapat tawaran kerja yang disuka dan waktunya memang pas, saya masih mau terima. Dalam sebulan kalau bekerja paling lama 10 hari sampai 2 minggu. Selebihnya bisa dipakai untuk mengerjakan yang lain.”

happy salma

Good news! Bagi yang kangen dengan aksi panggung Happy Salma, bisa mengobatinya sebentar lagi nih. Kurang lebih tiga bulan lagi, Happy Salma akan unjuk kebolehan bermonolog di GKJ Jakarta bulan Agustus!

“Saat ini saya sedang dalam persiapan untuk pertunjukan di bulan Agustus dalam rangka 10 tahun wafatnya Pramoedya Ananta Toer di GKJ. Kami mengangkat novelnya yang berjudul Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Di sini saya bertindak sebagai produser dan juga bermain. Selain saya, ada Julie Estelle, Reza Rahardian dan Lukman Sardi.”

Seringnya bolak-balik Jakarta Bali tidak menjadi masalah baginya sejauh ini. Selain karena memiliki tempat tinggal di Jakarta, keluarganya pun banyak yang tinggal di ibu kota. Teman-temannya pun menjadi contoh nyata bahwa jarak bukanlah masalah.

“Saya banyak lihat teman-teman saya seperti Mas Butet yang tinggal di Yogyakarta tapi banyak beraktivitas di Jakarta, begitupun dengan Nadya Hutagalung yang tinggal di Ubud tapi beraktivitas di Singapura. Jadi saya terinspirasi dari mereka juga.”

Di antara kesibukannya saat ini, Tulola adalah salah satu bisnis perhiasan yang digeluti Happy Salma bersama partner-nya. Coba deh Anda sempatkan untuk melihat bentuk perhiasannya: Unik dan terasa Indonesia! Tulola yang sudah mulai melebarkan sayap ke pasar internasional ini pun berani menawarkan garansi selama 2 tahun kepada pelanggan dan terus menyajikan banyak motif ukiran turun-temurun asli Indonesia.

Mengontrol penuh kualitas, komunikasi, konsep, dan produksi di Tulola, Happy Salma ingin membawa brand lokal ini mendunia. “Kami selalu menghadirkan the best quality, batu-batu yang dipilih pun yang terbaik, seperti blue topaz yang kami ambil dari Brazil, dan dibentuk handmade di India. Di Indonesia tidak banyak yang menawarkan perhiasan handmade untuk pengukiran batu. Dari segi kreativitas, kami memasukkan unsur motif-motif komunal, motif yang sudah ada sejak lama di Indonesia dan turun-temurun diwariskan, digabung dengan motif kekinian. Kami ingin karya Indonesia jadi warga dunia. Perhiasan Indonesia tidak dipakai di upacara adat saja, tapi juga cocok digunakan ke mall, ke gala premiere, dan pesta-pesta internasional namun tetap tidak meninggalkan akar kita.”

Happy Salma yang dapat menggeluti beberapa profesi sekaligus ini memicu rasa penasaran saya. Baginya keluarga tetap nomor satu, tapi di area lain pun Happy Salma mampu menekuni dan mengembangkan diri. Apa yang paling menarik dari tiap bidang tersebut?

“Kalau dunia akting, itu interpretasi kita terhadap sebuah cerita/naskah yang juga memberikan dampak pada saya dalam cara memilih masa depan, jalan hidup, dsb. Saya merasa kalau saya tidak mengerjakan itu, hidup saya terlalu plain, bosan, dan seperti robot. Berakting itu seperti memberi nafas tersendiri untuk saya, memberi inspirasi dan semangat, dan memengaruhi bagaimana saya saat bersama suami dan anak.”

Walaupun begitu, perjalanan karir dan hidup Happy Salma tak luput dari tantangan. “Dalam berbisnis, tantangannya pasti bagaimana kami membuat inovasi, bagaimana caranya agar tidak harus menjadi follower, dan justru menjadi leader. Saya kalau berbisnis pasti tidak jauh dari bidang saya, dalam arti kecintaan saya pada sastra dan budaya. Pasti deh nyambung ke sana. Jujur saja saya tidak terbayang kalau harus berbisnis di bidang lain seperti batu bara dan lain sebagainya. Kalau saya berbisnis atau menggeluti arena baru yang masih berhubungan dengan seni dan berkaitan dengan dedikasi pada budaya, saya masih mau. Saya ingin kekayaan alam tidak hanya jadi komoditi semata, pasti ada nilai-nilai dari motif komunal yang bisa terjaga dan terus berlangsung dengan membuatnya terus-menerus.”

happy salma

Happy Salma yang sudah “melahirkan” beberapa karya sastra pun ingin menggunakan namanya yang sudah dikenal sebaik mungkin untuk memberi pengaruh positif pada orang lain.  Tahun lalu, ia meluncurkan buku biografi kreatif berjudul “The Warrior Daughter, A Creative Biography Desak Nyoman Suarti”. Desak Nyoman Suarti adalah seorang maestro perhiasan yang merupakan ibunda dari partner Happy Salma di Tulola. Beliau dikatakannya termasuk sebagai salah satu feminist di Bali yang pada masanya berhasil menunjukkan bahwa wanita di Bali pun berhak untuk belajar melukis dan berkarya. Tak hanya menceritakan motif-motif tanah air, di biografi ini pun Happy Salma menceritakan tentang kisah hidup Desak Nyoman Suarti.

happy salma

Kombinasi motif komunal Indonesia dengan motif modern

“Buku ini menjadi sekolah saya juga, bagaimana mencari dan mengumpulkan data-data dari desainer perhiasan ini. Saya butuh dua tahun untuk menyusun buku ini. Ada motif-motif milik kita orang Indonesia yang ditunjukkan di buku ini.  Saya rasa penting untuk menunjukkan kekayaan Indonesia karena kalau tiba-tiba dipatenkan oleh orang lain dan saat kita, orang Indonesia sendiri ingin menggunakan harus membayar kan sedih juga ya. Kalau kita buat terus-menerus, dan memberi keyakinan kalau ini datang dari rahim Indonesia, motif-motif ini jadi milik bersama kita. Buku ini kurang lebih ingin mendokumentasikan dan menyampaikan itu.”

Dari sekian banyak pencapaian yang pernah diraih, apa yang paling berkesan untuk seorang Happy Salma?

“Jadi ibu sudah pasti. Itu domestiknya ya. Hahaha… Kalau pekerjaan, saya merasa berhasil mencapai sesuatu saat keluar dari zona nyaman. Salah satunya adalah saat mencoba bermonolog di atas panggung, sendirian, selama beberapa jam di depan ribuan orang. Bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan menjalani kodrat saya sebagai wanita juga merupakan achievement bagi saya.”

happy salma

Membaca puisi, salah satu wujud kecintaannya terhadap karya sastra. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Sudah mencicip profesi sebagai aktris layar kaca, melebarkan sayap ke dunia pentas di panggung, lalu berkecimpung juga di dunia sastra, bisnis, dan kini sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak, Happy Salma mengaku dirinya adalah orang yang mengikuti alur semesta.

“Saya percaya selain punya cita-cita, saya juga menyerahkan cita-cita itu kepada situasi dan kondisi sehingga saya bisa fleksibel. Saya juga belajar untuk menekan ego diri. Menurut saya, waktu yang bisa memberi pelajaran untuk kita. Saya pun berusaha untuk sepintar-pintar mungkin menghayati setiap kejadian dalam hidup. Misalkan saat ada anggota keluarga sakit, berarti itu pertanda saya perlu menghabiskan waktu lebih banyak dengan anggota keluarga tersebut. Kerja penting, tapi itu bukan segala-galanya.”

Tanpa sadar, saya manggut-manggut menyetujui apa yang diucapkan Happy Salma saat ia mengatakan salah satu komitmen penting untuk berhasil dalam setiap profesi yang ditekuninya: Mawas diri.

“Di dalam profesi apapun, kita bisa menjalankannya kalau ingat dan berkomitmen untuk mawas diri. Tahu diri dan tahu batas. Namanya hidup ya kita memang perlu memberi kehidupan pada apapun. Misal membuat bisnis, kita perlu berkomitmen untuk memberi energi kita di sana. Ketika berbisnis, agresif, tapi tahu batas dan tidak berlebihan. Ketika sukses, perlu ingat juga bahwa kesuksesan bukan segala-galanya, tetap perlu injak bumi.”

Hal yang diungkapkannya ini menyambung pada topik tantangan terbesar yang menurutnya perlu diwaspadai. “Dalam hidup, tantangan terbesar datang saat terlena dan mulai tidak tahu batas. Perlu hati-hati dengan kesombongan. Sombong itu penyakit yang paling parah juga. Karena ketika sombong bisa jadi lupa diri, jadi tidak tahu diri, tidak bisa mendengar suara hati, dan terlena dengan segala macam yang menyilaukan. Bagaimana untuk berada di titik tengah itu tantangannya. Makanya saya sebisa mungkin ketika salam hormat terakhir di pentas, ketika membuka mata, harus reset dari awal lagi. Naskah yang sudah dihafal ya dilupakan, dan memulai lagi dengan lembaran yang baru. Jangan sampai pekerjaan terbawa dengan pribadi. Ada pujian kita terima, tapi jangan sampai tinggi hati. Belajar untuk terus belajar.”

Menjalani komitmen di berbagai bidang tentunya ada rasa bosan yang melanda. Kalau sudah begitu, Happy Salma memutuskan untuk membiarkan saja rasa bosan itu ada sambil dibawa pergi liburan sebentar, atau menikmati me time. “Me time saya paling di rumah baca buku, atau pijat. Kalaupun lagi nggak ada semangat, lagi nggak ada inspirasi, biarin saja mengalir, nanti inspirasi datang sendiri. Tapi tetap dicari ya. Kalau sudah lewat dari 3 hari, pergi keluar dari rumah, baca-baca buku atau coba hal lain. Kembali lagi untuk ingat agar selalu tahu diri dan tahu batas. Jangan kebablasan, kalau terlalu lama otak nggak dipakai nanti bisa malas. Biasanya orang-orang yang sukses, kalau saya perhatikan mereka menjalankan segala sesuatunya itu bukan karena sekadar rutinitas, tapi sudah menganggap itu sebagai bagian dari diri mereka sendiri.”

happy salma

Happy Salma di peluncuran buku Butet Kartaredjasa (Foto: Dokumentasi pribadi)

Peran keluarga sangat besar bagi seorang Happy Salma sampai dia bisa berasa di titik saat ini. Happy Salma saat itu mengungkapkan kedekatannya dengan sang kakak. Kakaknya inilah yang terus mengingatkan dirinya agar tidak terbawa pengaruh negatif dan tetap menginjak bumi. Kedua orang tua yang memberi keleluasan padanya untuk berkreasi juga memiliki peranan besar. Kini, suaminya pun mendukung untuk terus berkarya. Happy Salma malah menuturkan kalau suaminya juga membantu untuk menyaring beberapa pekerjaan. “Kadang saya ini terlalu banyak energi dan bersemangat, jadinya mau mengerjakan berbagai macam hal. Suami yang mengingatkan kalau saya nggak perlu mengerjakan hal itu, fokus saja ke yang ini.  Saya bersyukur punya suami yang mendukung apa yang saya lakukan. Dia tahu kalau saya bekerja, melakukan apa yang saya suka, saya bahagia. Dan dia support kebahagian saya itu. Karena happy wife, happy husband, dan happy baby juga kan. Hahaha…”

happy salmaSebagai seorang wanita aktif, Happy Salma termasuk sebagai wanita yang merawat kulit setiap harinya secara rutin. “Harus merawat dong, karena tidak ada cantik dari langit kan?” Ucapnya sambil tertawa. Dia selalu membawa aromaterapi, minyak wangi, body lotion, lip gloss, dan lipstik di dalam tasnya. Ada juga aksesori kalau tiba-tiba harus menghadiri acara tertentu. Sunblock pun jadi benda wajib baginya, apalagi Bali terkenal dengan cuacanya yang panas.

Untuk makeup sehari-hari, Happy Salma cuma butuh 5 – 10 menit untuk berdandan dan bedak tabur jadi pilihannya untuk riasan natural sehari-hari. Kadang-kadang malah dandan di mobil. Kalau ada waktu, pakai eyeliner tipis dan maskara. Kalau acara-acara undangan, dia pun puas dengan berdandan sendiri. Lain ceritanya kalau berkaitan dengan pekerjaan, ada rias wajah panggung dan makeup karakter yang membutuhkan ahlinya.

Lalu bagaimana dengan suami Happy Salma? Suka melihat Happy Salma memakai dandanan seperti apa?

“Suami suka saya berdandan biasa-biasa aja dan terlihat natural. Kadang kalau saya buat rambut jadi curly, dan pakai full makeup, dia malah tanya mau prom night ke mana. Hahaha… Kadang kalau ada acara saya pakai bulu mata palsu, dia ngingetin nggak ada shooting kok di sini. Saya tetap pakai makeup, tetap pakai foundation tipis, shading tipis untuk acara yang lebih spesial, tapi sebisa mungkin tidak menghilangkan karakter wajah saya. Saya memang nyamannya begitu, dan pasangan juga mendukung saya dengan tampilan natural. Kan beban juga ya kalau sayanya suka natural tapi suami mau saya pakai bulu mata palsu setiap hari. Bisa repot kalau begitu!”

 

PREVIOUS ARTICLE

5 Kebiasaan Buruk Setelah Mandi yang Perlu Dihentikan

NEXT ARTICLE

Review: Masker Mediheal, yang Mana yang Cocok Untuk Anda?

RELATED ARTICLES

comments