Beauty

Bicara Emansipasi Wanita, Manfaat Olahraga, Hingga Work-Life Balance Bersama Dian Sastrowardoyo

Jika ada yang bisa mewakili sosok Kartini modern, mungkin banyak yang akan berpendapat bahwa Dian Sastrowardoyo adalah figur yang tepat. Bukan hanya karena dia memerankan R.A Kartini di film arahan Hanung Bramantyo “Kartini”, namun karena Dian juga memiliki pemikiran yang mengagumkan dan membanggakan para wanita Indonesia. Wanita berusia 35 tahun dan memiliki dua anak ini pun cukup aktif dan bersuara dalam beberapa aktivitas sosial. Namun, apa sih pendapat sebenarnya tentang Kartini modern?

Kartini berjuang dengan caranya di zamannya. Menurut Dian, dengan cara apa sebaiknya wanita berjuang di era modern seperti sekarang?

Aku sangat passionate memerankan Kartini, karena apa yang diperjuangkan Kartini itu sangat relevan dengan apa yang kita hadapi sekarang sebagai perempuan modern. Kartini kan memperjuangkan kesetaraan hak untuk bisa mendapatkan edukasi, tapi masih ada teman-teman saya yang dipaksa kawin daripada diperbolehkan S-2. Padahal kita sudah tak peduli lagi, kita ningrat atau bukan. ‘Kawin telat’ itu tetap menghantui teman-teman saya yang kariernya menjulang. Ketakutan akan menjadi perawan tua itu masih relevan, dan menurut saya itu menyedihkan. Mungkin saya bisa bilang seperti ini karena saya beruntung mendapat jodoh meski I am, myself, quite an ambitious girl in career. Saya juga beruntung karena pasangan saya pun sangat mendukung karier saya. Namun, untuk hal ini, rasanya masih perlu kita diskusikan.

Nah, bagaimana dengan stigma atau ‘aturan’ yang menyatakan kalau wanita itu harusnya seperti ini atau seperti itu? Apa pendapat Dian tentang hal ini? Sebenarnya, wanita itu harus yang seperti apa?

Hal ini kadang tidak filosofis juga dasarnya dan kadang membatasi perempuan untuk being their full potential. I think, karakter manusia itu terlalu kompleks dan terlalu abstrak untuk bisa dikotakkan di keharusan yang seperti itu. Kadang kalau kita terlalu heboh making sure bahwa kita berada di keharusan yang semestinya, kita malah jadi membatasi our full potential untuk berkembang menjadi potensi kita yang seutuhnya. Sepertinya, sebagai manusia, kita perlu lebih fokus pada hal lain yaitu mengembangkan potensi kita, kreativitas kita, dan kemampuan kita, daripada memikirkan kita sudah sesuai belum ya dengan keharusan-keharusan itu.

Cinta di “Ada Apa Dengan Cinta” dan Cinta di “Ada Apa Dengan Cinta 2” hampir tidak berubah sama sekali. She’s aging gracefully. Apa sih perawatan kulit yang Dian lakukan?

Kita kan bertambah usia dan ada gravitasi. Everything tends to sag down! Kulit itu perlu dijaga kelembapannya, kemudaannya, kekenyalannya agar tak cepat turun. Jujur saja, ada banyak perbedaan antara Cinta di 2001 dan 2016. Good news is I kinda like the changes. I develop some lines here and there, somehow itu melengkapi karakter saya. Melihat diri saya yang dulu dan sekarang, I’m quite happy what I’m looking now. Saya cukup nyaman dengan diri saya sekarang ini yang tetap meng-acknowledge bahwa ‘yes, I’m getting old, but getting old doesn’t always mean getting uglier’. Getting old is a very elegant process yang perlu kita embrace dan nikmati dengan santai. And of course, do all those routines. Krim malam jangan telat ya sis!

Banyak yang bilang kecantikan Dian sebagai natural beauty. Pendapat Dian tentang hal itu?

Terus terang, penampilan saya sekarang ini pakai persiapan yang panjang dan sangat dipikirkan. Saya sangat bersyukur dengan apa yang dikasih Tuhan ke saya, but I think people should all be like that. Kalau kita bersyukur terhadap penampilan yang diberikan pada kita, kita jadi lebih semangat untuk melakukan perawatan rutin untuk bisa mendapatkan the best version of ourselves. I think I can only look this pleasant setelah melewati perawatan yang rutin, juga research dengan gaya makeup yang cocok untuk saya. Untuk cari tahu yang cocok untuk kita seperti apa itu butuh proses panjang. Now, I’m very comfortable in the way I look juga karena sudah melewati segala macam proses penemuan dan kegagalan. Ha ha ha…

Your beauty statement?

Kalau ada acara khusus, biasanya pakai lipstik dengan warna dramatis. Atau, rias mata yang agak strong.

Alasan potong rambut?

I’m simply bored about my looks. Sebelumnya saya habis memerankan Cinta dengan long bob itu dan poni yang juga panjang. Setelah itu, saya berperan sebagai Kartini yang juga rambutnya panjang. Setelah menyelami peran yang sangat intens, sometimes I need to shake it off. Saya ingin tetap tak mau membiarkan diri saya terdefinisi dengan peran-peran yang saya kerjakan. That’s my work. Me? I’m another character. Dian is another character. Orang kadang terlalu ‘ketempelan’ the image of Cinta ke Dian. Kadang-kadang, I want to break free. I just want people to see bahwa ‘no, what you see is my work. The person who works behind it is another person’. Kebetulan, sekarang saya mendapat peran yang sangat berbeda dari Kartini. Untuk peran ini, saya perlu rambut yang seperti ini, karena karakternya yang sangat beda. I’m very excited of exploring and exploring new looks of myself.

Dian termasuk gemar berolahraga. Apakah kegemaran ini memberi pengaruh pada kulit?

Ketika kita berolahraga, distribusi oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh jadi lebih bagus, termasuk ke kulit dan rambut. Peredaran darah ke kulit juga jadi terlihat. You have pink blushing skin kalau olahraga. Bibir pun jadi pink, meski kita tidak pakai lipstik. It’s natural.

Aktris di depan kamera, namun istri dan ibu ketika di rumah. Bagaimana cara menyeimbangkan peran yang berbeda ini?

Saya merasa apa yang saya alami ini juga dialami banyak wanita yang berkarier. Pada saat saya di kantor atau di tempat kerja, saya pakai ‘topi’ aktris profesional atau brand ambasador profesional. Ketika saya pulang ke rumah, saya sudah buka ‘topi’ tersebut dan menggantinya dengan ‘topi’ ibu. Sebagai seorang yang sudah berkeluarga, kita harus lebih disiplin membagi waktunya. Kalau masih single, mungkin kita masih bisa sedikit mengeksploitasi waktu pribadi dengan pekerjaan. Bisa lembur atau bawa pekerjaan ke rumah. Keluarga mungkin jadi prioritas yang entah keberapa. Nah, kalau sudah jadi ibu, kita sudah tak bisa punya keleluasaan itu. Pekerjaan yang jadi prioritas kesekian, karena anak dan suami adalah prioritas utama. Keluar dari rumah, barulah pekerjaan jadi prioritas pertama. Kita harus lebih efisien dalam bekerja, karena kita tidak bisa membawa pusingnya pekerjaan ke rumah dan pusingnya masalah rumah ke pekerjaan. Kita harus disiplin banget untuk buka-tutup ‘topi’ itu.

Liburan keluarga ala Dian?

Sekarang saya sedang kompakan dengan suami untuk berkomitmen tidak bawa pengasuh anak saat liburan. Dua tahun lalu, kami masih merasa belum handal untuk meng-handle anak sendiri, tapi kami sudah mau mulai disiplin. Anak juga kan hanya sebentar jadi anak kecil dan kita ingin ada quality time dengan anak saat liburan. Liburan yang terakhir nih, foto yang saya post sedikit sekali karena basically saya jarang banget pegang ponsel. Kerjaannya benar-benar bagi dua mengurus anak. Suami saya have turned into a super dad dan saya jadi berpikir dia seksi sekali. Ternyata, super dad itu sangat turn-on untuk para moms di luar sana.

Selain menjadi aktris, apa passion lain Dian? 

Dari kecil, saya merasa ada seorang penulis kecil di dalam diri saya. Saya ingat diary saya saat SD. Saat itu, saya kan sangat terobsesi dengan novel NH Dini “Pada Sebuah Kapal”. Tulisan saya itu seperti membaca prosa-prosa NH Dini yang mendeskripsikan hal-hal dengan first person point of view. Itu agak egois dan narsistik sebenarnya ya. Ha ha ha…. Kalau misalnya dimanifestasikan jadi tulisan yang bagus, saya rasa saya punya passion di situ.

Saya juga suka banget musik. Dulu waktu SMA, saya ngeband dan saya main gitar. Saya juga suka nyanyi. Or, I can see myself as seorang dosen. Dosen filsafat mungkin? Atau mungkin pejuang HAM.

PREVIOUS ARTICLE

TheBalm Luncurkan Photobalm Powder Foundation untuk Para Wanita yang Gemar Selfie

NEXT ARTICLE

5 Kesalahan Besar Makeup Yang Membuat Bulu Mata Rontok

RELATED ARTICLES

comments