Beauty

Benang Merah Dunia Kecantikan dan Teknologi Versi Amalia Hayati

Besar kemungkinan Anda yang doyan atau sering mencari informasi produk skin care tahu nama Amalia Hayati atau yang dikenal juga dengan nickname-nya Deszell di media sosial, atau sering juga mampir ke blog-nya. Tapi, besar juga kemungkinan Anda belum tahu kalau ia mengawali karirnya di bidang IT (Information Technology), yang ya, memang jauh kaitannya dengan skin care ataupun makeup. Bekerja sebagai senior consultant di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT, namun juga punya keahlian di bidang kecantikan dan sering pula diajak sebagai pembicara untuk beberapa acara dan talkshow bersama brand-brand kecantikan. 2 bidang yang jelas berbeda, namun baginya punya benang merah yang sama: bisa berbagi ke orang lain dan memberi solusi untuk masalah yang ada.

Tidak terasa 2 jam telah dihabiskan untuk berbincang dengannya. Time flies so fast when you have this person in front of you who is full of insights and encouragement. Saya tertarik dengan pendapatnya akan fenomena “Beauty Influencer” di Indonesia, cara dia menghadapi komentar atau pertanyaan jahil di Instagram, sampai tantangan terberat dalam hidup yang pernah dihadapinya. Yuk, kenalan lebih lanjut dengan seorang Amalia Hayati, dan cari tahu pandangan dia akan berbagai macam hal tersebut di sini.

Amalia Hayati

I am an Information System graduate, dan saat ini gue bekerja sebagai Senior Consultant untuk perusahaan yang bergerak di bidang IT. Gue tertarik banget dengan IT karena saat mau kuliah dulu lagi zamannya Y2K bug. It was the first dot com boom. At that time, the world of IT was sexy. Kayak sekarang startup is sexy. Padahal gue tuh tadinya mau ambil sekolah fashion design. Tapi gue tahu kalau gue itu nggak bisa menggambar, dan kalau mau masuk fashion design mesti punya portfolio dulu. Yang pasti saat itu adalah gue suka pelajaran yang menggunakan logika, dan logika gue bagus. Jadilah gue ambil Information System saat kuliah di Australia. Lulus kuliah, gue kerja di ASEAN selama 6 tahun sebagai Web Master, lalu setelahnya jadi Managing Editor di Female Daily selama 3 tahun, lalu saat ini kembali lagi di dunia IT.”

Awal Ketertarikannya dengan Produk Kecantikan

“Dari dulu gue suka banget produk kecantikan. Pakai makeup dan skin care sejak SMP, dan waktu SMP itu pun nyokap udah beliin gue lipstik MAC. Jadi dari remaja emang gue udah into beauty banget. Selama gue kuliah, teman-teman gue jarang banget pakai makeup dan skin care. Gue udah kenyang dikomentarin ribet kalau mau pergi karena ada ritual pakai skin care dan makeup dulu. Gue menyikapinya ya santai aja karena gue suka itu semua.”

Benang Merah dari Semua Pekerjaan yang Pernah Dilakukan

“Gue kerja 6 tahun di ASEAN dan merasa nggak berkembang karena gue sudah terlalu nyaman dengan diri gue sendiri. Akhirnya gue memutuskan untuk join dengan Female Daily. Waktu itu Female Daily masih baru banget, in terms of content ya gue harus belajar. Dan ternyata, training gue di IT itu juga berguna karena kalau ada masalah-masalah kecil gue nggak harus selalu ke developernya. Yang bisa gue fix dengan coding-coding kecil ya bisa gue kerjakan sendiri. Dan itu berguna banget. Tapi di situ gue ngerti sih sebenernya apa yang gue suka. Gue suka beauty, tapi itu hobi. Bukan hal yang gue lakukan sehari-hari. Kalau gue lakukan itu sehari-hari, gue bisa muak. Hahaha! Karena pada saat gue pulang ke rumah, gue nggak punya pelepasan lagi karena itu udah jadi hal yang gue lakukan setiap hari. Sebenarnya yang gue suka adalah talking with people and giving them solution. Create a connection. Akhirnya waktu gue dapat tawaran kerjaan untuk balik lagi ke IT, gue ambil. Walau item yang gue pegang sekarang adalah system solution, tapi esensinya masih sama, I connect with people, knowing their problem, giving them solution, and walking through the solution with them. Sebenarnya itu sih yang paling gue suka.”

Perspektif Saat Menghadapi Tantangan Baru di Tempat Kerja

“You have to challenge yourself everyday to learn something new.”

“Waktu pindah kerja, terasa banget ada banyak challenge baru yang perlu gue hadapi. Tapi ya nggak apa-apa, justru itu hal baru yang buat gue belajar dan add value to me. Kalau gue melihat masalah, gimana sih solusinya? Kalau gue lihat hal baru, berarti ada sesuatu yang baru untuk gue pelajari.”

Perempuan yang Bekerja di Bidang Teknologi Informasi

Actually, in IT world, it’s easier for women because the standard is not that high. Karena gue perempuan, mereka nggak mengharapkan lo untuk ada di angka 9 atau 10. Standar mereka cuma 6 lah. Tapi kalau kita bisa melebihi ekspektasi mereka itu, mereka akan kagum. Dan sebagai perempuan, kerja di bidang yang digeluti oleh mayoritas laki-laki ini justru bisa buat kita jadi stand out.  Misal dari 10 orang, cuma 3 orang perempuan. Lalu dari 3 perempuan itu, gue doang yang pakai lipstik merah atau lipstik fuchsia. Makin diinget lagi kan? Setiap mau meeting, I will try to look my best, tapi nggak berlebihan.  Jadi gue melihatnya justru gue punya banyak keuntungan sebagai perempuan yang bekerja di bidang IT ini.”

Tentang Nickname Deszell 

“Nickname gue itu nggak ada artinya. Random aja. Dulu zaman mIRC gue butuh nickname, dan deszell kayaknya lucu, terus ya udah I’m sticking with it. Social media menurut gue jadi alat untuk branding diri lo sendiri. Gue udah punya nickname ini dari SMA, dan dari dulu gue suka beauty. Banyak chat sana-sini, dan join forum dengan nickname yang sama. Jadi kalau diminta ganti nama pun gue nggak mau karena menurut gue that brand, that nickname dan beauty udah berkesinambungan dan gue nggak mau mengubah itu. Selama gue menggunakan nickname itu, mostly I will talk about beauty stuff. Saat orang search nickname gue, yang keluar pasti beauty.”

Fenomena Beauty Influencer di Indonesia

“Sekarang, event beauty lebih banyak dari event fashion. Gue ngelihatnya bisa dapat uang, tapi belum tentu pasti dapat uang. Yang penting dapat barang gratis aja lah dulu. Hal ini terbentuk karena industrinya sendiri yang memberikan ruang untuk itu. Brand udah jarang pasang iklan di print media karena readership-nya udah turun banget, harganya mahal, dan nggak bisa diukur seberapa banyak orang yang baca. Sedangkan kalau pakai beauty influencer, lo tahu orang ini punya follower berapa, kira-kira engangement-nya gimana, dan tahu orang yang suka sama makeup dan skin care kemungkinan akan follow si beauty influencer ini.

Tapi, bisa bilang orang itu sebagai beauty influencer itu gimana? You have to prove that you have influencing pattern yang menurut gue belum bisa dibuat atau belum bisa memetakannya. Kadang, “penyakitnya” itu dari brand-nya juga. Mereka cuma peduli growth and numbers. But they don’t really care about conversion and influencing pattern. Tujuannya apa? Apakah cuma awareness, apakah mau orang dateng ke counter dan beli. Atau mau jadi top of mind brand? Kadang tujuannya pun belum jelas. Kadang, mau semuanya, tapi kan nggak bisa, lo harus tahu lo lagi ada di step yang mana. Fenomena beauty influencer ini menurut gue, they dont know what they want. Semuanya diambil. Misalnya, baru ada placement hair product A hari ini, tapi minggu depan terima hair product B. How do you create your influenting pattern kalau gue nggak bisa percaya sama review lo? Kalau lo hari ini bilang A bagus, besok lo bilang B bagus. Berarti kalau gue bayar, berarti lo pasti bilang produk apa pun bagus dong? Atau kalau gue kasih lo produk gratis, lo pasti bilang bagus?

Sebenarnya ya harus bisa membuat kredibilitas di industri ini. If you want to create your influencing pattern, you have to build your credibility. Bahwa apa yang lo omongin bisa dipercaya. Menurut gue, itu yang masih kurang banget di Indonesia. Tapi ini juga menurut gue PR-nya brand. Brand harus ngajarin, harus tau apa yang mereka mau, tujuannya apa, dan ngajari mereka: ini loh cara penulisan yang baik dan boundaries-nya seperti apa. Dari situ, ilmu yang beauty influencer serap terserah mereka mau pakai gimana. They have to maintain their independency. Bukan karena brand kasih uang atau barang, brand bisa menyetir opini merkea.  Banyak banget yang bilang, ‘Jadi beauty influencer aja, ntar dikasih barang gratis, uangnya juga gampang.” Kalau lo emang benar-benar bagus, money will follow kok.

Pilih Disebut Sebagai Beauty Blogger, Beauty Influencer, atau … ?

I don’t think I’m a blogger. Orang sering bilang gue ini antara influencer atau expert.  Gue lebih suka menajamkan skill gue sebagai expertise. Oke gue suka beauty dari dulu. Makeup dan skin care gue suka semua karena 2 itu complimentary. Tapi di Indonesia ini yang masih kurang adalah skin care. Dan dari dulu emang gue lebih suka nulis skin care. Gue banyak riset dan gue banyak nulis. Di beauty industry kita pun masih jarang informasi tentang skin care. Banyak banget pertanyaan tentang skin care yang orang belum bisa jawab, nggak tahu cari informasinya di mana, dan gimana jelasinnya. Bukan sekadar teksturnya enak, tapi apa aja sih yang lo harus perhatiin sebelum beli dan pakai skin care itu? Itulah yang buat gue akhirnya memutuskan untuk menajamkan skin care. Semakin lo mengerucutkan, semakin lo jadi expert. Disebut sebagai influencer sih oke lah, tapi kalau blogger ya itu tadi, I don’t think I’m a blogger because I don’t really put much time into blogging. Kalau ada informasi yang udah lengkap, baru gue tulis di blog.”

Deszell

Cara Membangun Kredibilitas 

“Lo harus tau, keahlian lo di mana. Kalo keahlian lo di area A, ya udah di situ aja, jangan latah ikut-ikutan di area lain. Kalau tentang kerjasama, gue selalu akan tanya di awal saat dapat tawaran. Produknya apa, line produknya seperti apa, dan gue mau dijelasin detail dari produknya, apa yang dipakai dalam produk itu. Kalau gue belum tahu itu, gue nggak akan mengiyakan. Beberapa kali gue pernah nolak tawaran karena nggak percaya sama produknya.

You have to be able to say no.

Ada beberapa brand yang sering kerjasama sama gue, dan gue punya relasi kerja yang bagus dengan merkea, tapi gue nggak akan sungkan bilang ke mereka kalau gue nggak suka produk mereka dan alasannya. Walaupun lo deket dengan orang brand,  lo harus bisa menyampaikan apa yang memang mau lo sampaikan ke mereka. Tentu dengan cara penyampaian yang baik juga ya. Itu pun bisa jadi masukan untuk brand-nya. Penting untuk lo tahu dengan siapa lo bekerja, dan lo mengerjakan apa. Misal kalau ada tawaran untuk support suatu campaign, detailnya 1 blog post, 1 video, 2 Instagram post. Ya gue bilang, ‘Oh, I don’t do video” dan mereka bisa terima juga kok. Non sense aja buat gue kalau tiba-tiba gue ikutan bikin video padahal gue nggak pernah buat. Don’t do something out of ordianry hanya untuk buat brand senang. Jangan juga menggunakan influence lo sebagai sarana alat negosiasi. Ada loh orang sengaja nulis buruk karena nggak suka cara satu brand atau pihak lain nge-treat dia.

Despite all that, you have to be able to maintain your objectivity towards the product.

Itu yang menurut gue masih kurang di sini dan perlu ada untuk membangun kredibilitas.”

Social Media dan Batasan Share

“Kalau share tentang beauty, pasti lebih ke image. Jadi memang lebih tepat di Instagram karena sangat visual. Mau nulis caption pun nggak terbatas. Tapi masalahnya adalah untuk cari informasi di Instagram itu susah, karena lo nggak bisa search within the caption. Dan bentuknya chronological, nggak bisa search lihat archive. Kalau informasi yang ingin disampaikan padat dan banyak yang harus dicerna, tentu lebih baik dalam bentuk tulisan atau video. Because I don’t do video, I do blog. Dan supaya bisa interaksi dengan orang supaya lebih gampang nanya, Insta Live menurut gue udah enak banget.

“Dulu sih gue banyak share tentang anak. Tapi makin ke sini sih udah jarang banget. Anak gue udah makin besar, jadi gue nggak mau terlalu share banyak. Gue juga nggak suka share informasi detail seperti lokasi gue lagi di mana. Gue juga nggak share banyak tentang pekerjaan gue. So people doesn’t really know what I’m doing. Karena menurut gue, it’s already scary enough people know who you are, terus tahu lo di mana, kapan, jam berapa. Buat gue sih itu nggak perlu. Tapi ini balik lagi ke orang masing-masing. Image seperti apa yang lo mau sampaikan ke follower lo? Kalo emang mau open se-open-open-nya ya udah, itu keputusan masing-masing, but stick to that aja kalau mau serius branding diri dari social media.”

Menghadapi Komentar Nyinyir

“Menurut gue, posisi gue udah lumayan jelas di Instagram. I’m not really friendly, and I don’t really open myself. So there is no room for people to nyinyir. Paling yang ada itu komentar ‘Mba Amal kok skin care-nya mahal-mahal sih?’ Bujet orang beda-beda kan ya, dan di usia gue yang sekarang gue lebih prefer untuk invest di expensive skin care dan ada beberapa hal yang menurut gue memang perlu beli yang mahal, karena yang mahal itu yang bagus. Umur gue udah 35, gue udah banyak banget nyoba berbagai makeup dan skin care. Gue tahu beberapa brand yang harganya mahal yang teksturnya enak, dan efeknya pun enak buat kulit gue.

Yang penting, produk apapun yang dibeli itu ya disesuaiin sama kebutuhan dan bujet lo. Selama nggak cocok dengan bujet lo ya jangan dibeli. Kalau menurut lo produknya mahal tapi nggak bagus buat lo ya jangan dibeli. Kalo menurut lo ada yang lebih murah, ya beli yang lebih murah. But you don’t have to buy expensive skin care all the time dan nggak perlu beli skin care yang sama persis seperti apa yang gue pake. Kadang orang mikir apa yang lo liat, lo harus pakai sama persis. But first, you have to know where that person came from. Misalnya lo baca blog gue, emang gue pakai banyak produk karena gue udah coba macam-macam produk, dan gue mau cari produk baru. Gue pun udah 35 dan punya kulit kering, gue emang mau investasi lebih ke skin care yang dipakai. Kalau lagi live di Instagram, pasti ada aja pertanyaan-pertanyaan iseng yang nggak penting, kalau ada yang gitu ya gue diemin aja. ”

The Biggest Challenge In Life

I think when I had my divorce. Saat itu gue juga lagi nggak happy dengan kerjaan, dan anak gue lagi masa-masa pertumbuhan yang butuh waktu dan atensi banyak. It’s like one period of time. My job was not making me happy, and financially, I’m not stable yet. Gue akhirnya menjalani semuanya itu dengan take joy in small things. Hal kecil sesimpel morning coffee, ganti warna kutek, dan coba warna lipstik baru. Menurut gue itulah yang bisa buat gue berhasil melalui hari demi harinya.

You start with small thing to make you happy. You tackle your problem one step of a time.

Setelahnya, gue jadi nggak mempermasalahkan hal-hal yang sepele, lebih santai dan easy going. Dan jadi lebih punya perspektif yang terarah. Gue punya long term goal, gue tahu finish line di mana, tapi untuk menuju finish line itu kan ada beberapa langkah. Ya udah, do it one step at a time. Kerjakan dulu apa yang bisa dikerjakan sekarang.”

“Saat udah bertekad kerja, harus ikhlas.”

“Gue punya anak di umur 24. Dan di saat masih breastfeeding, gue pun perlu kerja karena gue single income untuk membiayai gue dan anak gue. Ada teman gue yang bilang, ‘Kalau lo ngerasa nggak happy, anak lo juga akan ngerasa nggak happy. Kalau lo kerja dengan terpaksa, yang nerima kerjaan lo bisa lebih nggak ikhlas lagi dong?’ Gue juga masih inget mantan bos gue di ASEAN yang bilang, ‘Your work is dominating your time, it takes away your time from your family. So it has to make you happy.’ Kalau nggak happy, ditambah rasa bersalah lagi karena ninggalin anak, itu bisa buat gue makin nggak happy lagi. Ya bener sih, menurut gue, saat udah berteked kerja, entah itu buat diri gue sendiri, atau harus kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ya harus ikhlas.”

Reward untuk Diri Sendiri

“Dua tahun terakhir ini, gue suka jalan-jalan bareng teman untuk liburan. I don’t feel guilty about it at all. Karena gue tahu waktu gue pergi, anak gue ada yang jagain dan diurus dengan baik. Waktu gue pergi pun bukan di saat-saat krusial seperti waktu dia lagi ujian atau sakit. Kerjaan gue pun udah beres, jadi ya udah gue pergi. Ada beberapa hal yang menurut gue tetap lebih enak dilakukan dengan teman-teman sendiri.”

Mimpi yang Sudah dan Ingin Dicapai

“Dari lulus, gue mau banget kerja sama KPK karena menurut gue mereka buat banyak perubahan untuk negara ini, and I want to be there. Beberapa tahun lalu gue ada project sama mereka, dan mereka bahkan melebihi ekspektasi gue. Ini yang buat gue percaya kalau negara ini masih punya harapan dan jadi lebih baik. Orang-orang seperti mereka ini yang mengingatkan gue kalau harapan itu masih ada. Gue dari dulu juga mau kerja di beauty industry, and I did that. Yang belum tercapai adalah skin care brand. Gue udah pernah membahas ini, tapi belum terlaksana. Kayaknya waktunya belum memungkinkan aja kalau sekarang. Kalaupun gue mau coba hal lain, gue pasti pilih yang berhubungan dengan yang biasa gue lakukan. Maybe if I want to change my career, I want to be a food critic. Hahahaha.”

 

PREVIOUS ARTICLE

Kulit Berjerawat, Stop Gunakan 5 Bahan Alami Ini Untuk DIY Skin Care!

NEXT ARTICLE

Tunjukkan Keahlian Makeup Anda dan Raih hadiah Ratusan Juta dari NYX Professional Makeup

RELATED ARTICLES

Lead Editor of Beauty Journal

  • Ini 5 Beauty Influencer Indonesia yang Perlu Anda Follow Agar Selalu Update Dengan Informasi Kecantikan Terkini [EDIT AM]

    […] Baca juga: Benang Merah Dunia Kecantikan dan Teknologi Versi Amalia Hayati […]

COMMENTS1 comments