Beauty

Agatha Suci, Memilih untuk Tetap Bahagia dan Berpikiran Positif dalam Menghadapi Masalah Hidup

Agatha Suci, wanita yang menyandang top 10 finalis Indonesian Idol season pertama ini kembali berkarya di dunia tarik suara setelah lebih dari 6 tahun absen tampil. Meskipun masih malu-malu untuk menelurkan album, wanita yang hobi mendekor rumah ini mengaku sudah lebih serius dalam mematangkan materi karyanya. Di samping menjalani karir sebagai penyanyi, Suci juga harus membagi waktunya sebagai seorang istri dan juga ibu dari dua anak. Sekilas kehidupan Suci memang terlihat serupa dengan para wanita karier lain yang sudah memiliki keluarga. Tapi jika menyimak setiap posti yang ia unggah di akun Instagramnya, Anda akan memahami bahwa Suci memiliki dua buah hati yang istimewa. Kahlia Adinda, putri sulung Suci mengalami gangguan tumbuh kembang atau sensory processing disorder. Sedangkan sang adik, Arsa Nuraga mengalami keterlambatan bicara atau delay speech. Alih-alih merasa iba, setiap post Suci justru akan membuat Anda merasa kagum dan bisa memandang segala permasalahan hidup dengan lebih positif.

Jika banyak publik figur yang mudah terpancing emosi dalam menghadapi berbagai komentar ‘usil’, lain halnya dengan Suci. Wanita berbintang Aries ini cenderung lebih santai dan bijak dalam menghadapinya. Bahkan tak sedikit para haters yang merasa malu atau bahkan balik meminta maaf. Dalam perbincangan Beauty Journal dengan Suci beberapa waktu lalu, kami pun coba berbagi cerita seputar pandangannya dalam menjalani hidup di era millennial serta bagaimana trik Suci menghadapi kerasnya dunia social media.

Bagaimana awal karir Suci di dunia tarik suara?

Sejujurnya aku tidak pernah berkeinginan jadi penyanyi, dan kebetulan aku bukan orang yang punya ambisi. Tapi aku selalu tahu apa yang aku inginkan. Dan kebetulan dari usia 4 tahun aku sudah pandai menyanyi, tapi nggak ada kepikiran untuk diseriusin. Bahkan saat masuk ke Indonesian Idol mama yang ngurus semua formulir dan persyaratannya. That was my first competition and my last one, haha. Aku tuh termasuk orang yang beruntung kalau aku bilang, Tuhan baik sekali sama aku. Bahkan di kompetisi itu perjalananku bisa dibilang mulus. Seolah Tuhan bener-bener kasih jalan, dan bilang ‘Ayo, Ci. Kamu harus punya sedikit ambisi.’ Memang aku tersisih pertama tapi bagi aku itu sebuah kebanggan besar karena belum pernah aku ikut kompetisi seperti itu. Setelah eliminasi aku pun nggak ngoyo harus tampil, berkarya sampai tahun 2008, lalu aku menikah dan stop semua kegiatan untuk fokus berkeluarga.

Apa yang membuat Suci memutskan kembali ke dunia tarik suara?

Setelah anak udah pada gede, suamiku mulai nyuruh aku untuk kembali nyanyi lagi, selain karena aku memang suka hal itu mungkin dia juga kasian lihat istrinya nggak bisa diem di rumah, hahaha. Tapi dia menawarkan dengan satu syarat, but this time you must really sure jangan setengah-setengah. Ya udah, here I am.

Bagaimana cara Suci menyeimbangkan kesibukan antara urusan karier dan tanggung jawab sebagai Istri sekaligus ibu?

Aku orangnya fleksibel, dan kalau ditanya apa prioritas hidupnya sekarang? aku nggak bisa pilih salah satu, segala sesuatu kan harus dilihat terms and condition-nya. Dan beruntungnya, Tuhan sayang aku juga, jadi anak-anak belom bisa protes nih kalau mamanya sibuk, karena selalu ada waktu khusus untuk anak-anak setiap harinya. Kalau ada pekerjaan pun selalu aku bicarakan dengan suami, baiknya gimana dan bersyukurnya aku, suami sudah seperti sahabat. Padahal kita ke mana-mana bareng, dia pun kerja di rumah, bisa dibilang kita ketemu 24/7, tapi selama pacaran sampai nikah, aku sama dia nggak pernah berantem, aneh sih tapi ya begitu kenyataanya, hahaha.

Apa prioritas Suci saat ini?

Buat aku kalau ada orang nanya lebih penting karier atau keluarga? Kadang kita harus menjadikan keluarga sebagai prioritas, tapi ada kalanya pekerjaan diposisikan sebagai prioritas, atau mungkin diri kita sendiri sebagai prioritas. Tergantung sikon, bukan berarti saat aku bekerja, aku akan lupa keluarga, atau sebaliknya saat aku selalu bersama keluarga dan aku nggak kerja, aku nggak mementingkan pekerjaan. It’s all about balancing. Tapi terlepas dari itu semua tujuan aku dalam hidup ini adalah membesarkan kedua anak-anakku dengan sebaik-baiknya.

Punya ketakutan terbesar dalam hidup? Kalau iya, apa?

Nggak ada. Aku bisa pastiin itu nggak ada. Number one in your life what you always worry is about money, tapi ngomong kasarnya uang bisa dicari, tergantung mindset kita apa soal uang. Kedua, kesehatan. Semua orang takut mati, tapi kalau memang udah ajalnya mau bilang apa?

Menurut aku kehidupan ini udah dirancang sama Tuhan, kamu tinggal pilih mau ngelewatin dengan cara apa.

Karena kita tahu tubuh pasti akan merasakan sakit, ya antisipasi dengan olahraga. Hidup ini fana, manusia pun fana, yang bisa kita lakukan cuma menjalani kehidupan yang diberikan Tuhan sebaik-baiknya. Dan selalu berdoa, bukan hanya karena rezekinya tapi karena masih diberi kekuatan untuk cari rezeki.

Berbicara tentang masa depan, Bagaimana Suci membayangkan kehidupan di 5 tahun mendatang? 

Pertanyaan sulit nih, karena pada dasarnya aku orang yang nggak punya cita-cita dan ambisi. Tapi Mungkin aku masih seperti ini, semoga lebih bahagia, more mature, I hope I’m gonna be healthier and absolutely lebih bijak, punya hubungan yang lebih baik dengan sekitar, jadi manusia yang lebih baik lagi.

Apa ajaran dari orang tua yang menurut Suci paling berpengaruh dan akhirnya membentuk  Suci untuk selalu bersikap positif dalam memandang hidup?

Hmm, buaanyak banget, karena mama penasehat sejati. Tapi satu hal paling aku pegang:

Kita tidak boleh merendahkan orang lain apapun kondsinya.

Karena dulu kita miskin sekali tinggal di gang senggol yang sempit, dan kita nggak pernah tahu kondisinya akan seperti sekarang. Tapi apapun itu, nasihat paling penting adalah you can’t underestimate people. Jangan sekedar lihat dari luarnya aja.

Untuk anak-anak sendiri pelajaran hidup apa yang Suci ajarkan pada mereka?

Kalau sekarang karena kondisi anakku, aku ajarin mereka untuk dispilin. Dan dari dulu karena mama selalu mengajarkan untuk tidak pernah membedakan orang, aku pun mengajarkan anak-anak untuk bisa respect sama orang yang lebih tua. Aku selalu ajarin mereka untuk cium tangan. kadang ada orang bilang, ‘Itu nggak bagus buat kesehatan,’ tapi aku nggak permasalahin soal itu, aku lebih fokus ke tujuannya supaya mereka bisa belajar menghormati orang tua apapun profesinya.

Masuk era millennial, social media punya peran penting dalam kehidupan tiap orang, lengkap dengan plus minusnya. Bagaimana Suci menghadapi komen yang memojokkan atau haters?

Basically I don’t have any problem with people, dan nggak kepengen juga sampai punya masalah. Tapi balik lagi, nggak mungkin satu orang begitu perfect sampai disukai semua orang. Kita seperti ini ada kekurangan ada kelebihan. Dan juga rasanya malah nggak bagus kalau semua orang suka, karena kita nggak bisa bercermin diri. Apa yang aku post pun semuanya apa adanya, nggak ada yang  diseneng-senengin, disedih-sedihin atau dikeren-kerenin. Tapi itu hak setiap orang untuk berpendapat. Karakter apa yang orang lihat di social media, ya itu juga yang akan mereka temukan saat bertemu langsung dengan aku. Aku sih punya satu keyakinan, ‘how people treat you is their karma, how you react is yours’. Jadi di kehidupanku yang penuh dosa ini yaudahlah jangan menambah dosa lagi, ya. Hahaha

Suci memilih terbuka di social media soal kondisi anak, tidak khawatir menghadapi komentar-komentar yang ada?

When you decide to socialize you will have any risk. Kalau kita nggak bersosialisasi ya risikonya kecil. Tapi semakin kecil risiko semakin kecil juga kita punya harapan untuk jadi orang besar. Social media bagi aku sekarang udah keren banget. Malah banyak membantu kehidupan orang. Di kehidupan aku sendiri, aku nggak pernah takut untuk nunjukkin diri aku sendiri. Ada yang bilang, ‘Ih itu anaknya autis, ya?’ Ya emang iya. Lalu selesai kan? Daripada menutup-nutupi. Jangan membuat orang punya celah untuk ngomongin. Malah kalau komen usil tentang anak-anak, aku sih jarang komen, biasanya lebih banyak teman-teman yang bereaksi.

Beberapa kali ada komentar jahat soal anak yang muncul, Tanggapan Suci?

It’s oke, nggak apa-apa. They can always say what they want. 

What they say define their lives, most important is how we react, it defines our lives.

Buat apa kita habiskan waktu untuk menjelaskan sama mereka soal kondisinya seperti apa, karena balik lagi, people only want to hear what they want to hear, and people only see what they want to see, explanation is just such a waste of time. Semua orang boleh berkomentar apapun, yang penting I have my happy life, I enjoy my life. Komentar jahat apapun ditanggapi dengan baik, hasilnya mereka nggak akan bereaksi macam-macam, malah yang ada jadi malu atau minta maaf.

Ada pesan untuk para orang tua yang mungkin mengalami hal seperti Suci yang kebetulan memilik anak istimewa?

Jadi orang tua nggak mudah, seiring berjalan waktu kita akan punya tanggung jawab, karena kita memilih untuk punya anak. Tidak ada anak yang minta dilahirkan, mereka tidak bisa memilih orang tuanya. Ketika kita mendapat kepercayaan memiliki anak ya disyukuri. Aku pun nggak berasa anakku kenapa-kenapa. Yang penting mereka sehat.

Kehidupan dalam bentuk apapun, kita harus selalu bisa berdamai dengan diri sendiri. itu yang paling penting, dan harus selalu bersyukur. Dari situ kita bisa menjalani kehidupan dengan bersenang-senang dan bahagia.

Karena pada dasarnya anak-anak itu tahu, kalau ketemu sama orang yg selalu sedih kita kan kebawa,begitu pun sebaliknya. So why you have to be unhappy? Paling utama, pikiran hati dan mulut saling bersinergi.

PREVIOUS ARTICLE

5 Hal Tak Terduga yang Bisa Menjadi Penyebab Bibir Gelap

NEXT ARTICLE

4 Hal Penting yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Membeli Deodoran

RELATED ARTICLES

COMMENTS0 comments